cerita dan novel

bacaan ringan

Indonesia Menyangkal Tujuan Perang Februari 5, 2010

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — arieprawira @ 7:19 am
Tags: , , , , , , , , ,

Masalah tentara Inggris mencapai zona

LONDON, Oct, 16 (AP) – Indonesia ensiklopedia radio hari ini menegaskan bahwa “Republik Indonesia” di Jawa telah menyatakan semua laporan palsu bahwa ia telah menyatakan perang terhadap Belanda.

Sementara itu semua-india radio melaporkan bala bantuan Inggris telah mendarat di Hindia Belanda untuk mengatasi gangguan asli.

Kantor berita Belanda Aneta melaporkan hari Sabtu bahwa orang-orang Indonesia ‘tentara dari gerakan nasionalis Soekarno telah mengeluarkan sebuah pengumuman menyatakan perang terhadap Belanda.

The Indonesia radio yang menyatakan: “Semua berita yang beredar di luar negeri yang telah menyatakan perang terhadap Belanda adalah palsu.

Laporan adalah provokasi jahat agen asing yang berusaha untuk mendiskreditkan Republik Indonesia. Para Republik Indonesia ingin menekankan kebijakan yang menghormati prinsip-prinsip perdamaian, kemanusiaan, dan keadilan.
Miami Daily News, 16 Oktober 1945

 

PREMIER BELANDA KRITIS Februari 5, 2010

LONDON, Oct, 14 (AAP) – sikap yang bodoh Buruh Australia tak terkatakan telah memperpanjang penderitaan rakyat Jawa, Perdana Menteri Belanda, Profesor Schermerhorn, mengatakan dalam sebuah disiarkan melalui Radio Belanda.

Itu penuh dengan kebencian, ia berkata, terutama ketika ia berpikir tentang pelayanan yang baik Kapal Belanda telah diberikan ke Australia.

Yang “Komite Indonesia Sydney” telah mengirim telegram kepada sekretaris politik Partai Buruh Independen, Mr Ferner Brockway, “menyatakan penghargaan untuk protes baru-baru ini mengenai penggunaan pasukan Inggris di Indonesia.”

Mr Brockway juga menerima pesan dari Indonesia “Pemerintah Republik” yang menyatakan bahwa satu-satunya tujuan dari Indonesia adalah kemerdekaan dan hak untuk menentukan nasib sendiri. Republik akan didasarkan pada demokrasi dan sosialisme.

The Sydney Morning Herald - Oct 15, 1945
 

Komparatif Cukup di Jawa Februari 5, 2010

Dari Staf Kami Wartawan, CC Eager, dan AAP

BATAVIA, Sept 28 – Jawa relatif cukup pada hari Rabu, tapi empat orang Belanda yang dibunuh di Sourabaya.

Di Batavia, di mana bendera Republik Indonesia “Pemerintah” menduduki di atas hampir semua gedung administrasi. Orang-orang umumnya tenang menunggu kedatangan kekuatan pendudukan Sekutu – diharapkan pada hari Kamis minggu depan.

Jepang mempersiapkan diri untuk magang di beberapa kenyamanan. Di Batavia mereka telah memilih tempat tinggal dan tanah luas dari mantan Gubernur-Jenderal. Mereka telah pengangkutan ada banyak kulkas dan perabot yang pengamat mengatakan mereka telah dijarah.

Pembatasan Mengangkat

Kondisi sekarang begitu teratur bahwa pembatasan gerakan di luar Hotel Des Hindia, di mana 300 perwira Sekutu hidup sebagai tamu dari komandan Jepang, telah diangkat.

Kebanyakan dari mereka yang meninggalkan hotel luas dasar permintaan masih jepang pendamping, namun.

Sebagian besar petugas telah meninggalkan praktek mereka membawa pistol saat mereka makan.

Beberapa orang Belanda hari ini memakai topi bungkuk Australia, yang secara resmi memastikan perjalanan yang aman dan menyambut universal.

Jepang Control

Ribu tahanan perang dirilis mengembara, tetapi mereka masih harus menerima pesanan dari Jepang. Sebagian masih bekerja untuk mantan penculik.

Uang Inggris tidak diterima, hanya uang kertas Jepang, yang telah dicetak Jepang secara harfiah oleh ton.

Jepang memberikan beberapa mobil untuk digunakan oleh pejabat militer Inggris, tapi masih berlomba mengelilingi pulau sendiri dalam limusin dicuri dari Belanda kaya.

Kita masih bergantung pada Jepang untuk kebanyakan hal, karena satu-satunya organisasi militer Inggris di Jawa adalah gaya kecil untuk membebaskan para tahanan perang. Ada nominal kecil mengendalikan angkatan laut Britania pulau dari pelabuhan Batavia, tapi tidak ada yang bisa dilakukan sampai kekuatan Inggris dan Belanda tiba.

Harapan Indonesia

Seorang aristokrat terkemuka di Indonesia. Abdul Kadir, yang sangat dihormati oleh Belanda dan yang kini penasihat resmi pemerintah Sekutu di sini, mengatakan kepada wartawan kemarin bahwa Indonesia berada di tangan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Merasa di Perserikatan Bangsa-Bangsa itu begitu kuat demokratis, ia berkata, bahwa mereka akan bersikeras bahwa Indonesia diberi pemerintahan sendiri.

Abdul Kadir mengatakan bahwa mantan prestise putih sebagian besar hilang di antara Indonesia selama perang, dan orang-orang sekarang yang mengatakan bahwa, jika orang Jepang telah bersikap selama pendudukan dengan sopan terkendali sekarang mereka muncul, mereka mungkin akan menjadi pemimpin yang dapat diterima di Indonesia .

Jawa pusat kesultanan dan kerajaan, yang pusat kebudayaan Indonesia, dan memiliki populasi 5.000.000, telah menerima pemerintah Republik yang didirikan oleh Dr Soekarno bulan lalu, katanya.

Rencana Belanda

Dia berpikir bahwa jika Belanda membangun kembali kontrol setelah pendudukan Sekutu, mereka bisa dipercaya untuk melaksanakan rencana mereka untuk Kemerdekaan Indonesia, meskipun akan sangat ditentang oleh Belanda mati-keras.

Rencana diusulkan adalah untuk menyelenggarakan pemilihan di seluruh Indonesia untuk memilih wakil-wakil ke dewan. Ini kemudian akan memilih delegasi untuk bertemu di Belanda dengan wakil-wakil dari Belanda dan bagian-bagian lain dari Kerajaan Belanda. Pada konferensi ini, Belanda berjanji bahwa pengaturan akan selesai untuk memberikan koloni pemerintahan sendiri, subjek untuk mengontrol hubungan internasional oleh parlemen kekaisaran yang berisi wakil-wakil dari semua pihak kesultanan dan Belanda.

Belanda intoleransi, kata dia, akan harus pergi untuk selama-lamanya. Orang-orang harus diperbolehkan, misalnya, untuk bergabung dengan partai politik apapun yang mereka inginkan. Sebelum perang, Partai Komunis dilarang.

Belanda masih melarang republik bendera merah putih, yang merupakan bendera bersejarah di Indonesia, tapi tak ada alasan mengapa tidak boleh digunakan jika penggunaannya setia kepada Belanda.

Selama perang, orang Indonesia menyimpulkan, ia memiliki beberapa diskusi dengan Presiden Rooselvelt dan Ratu Belanda tentang Indonesia yang harapan untuk pemerintahan sendiri demokrasi. Ia menemukan mereka, dan semua negarawan terkemuka, sepenuhnya simpatik.

The Sydney Morning Herald

29 September 1945

 

Merah, Indonesia Menandatangani Perjanjian Februari 5, 2010

Moskow, 9 Mei. (UPI) – Indonesia dan Uni Soviet telah menandatangani kesepakatan baru hari ini memberikan pemerintah Indonesia dengan bantuan militer baru “untuk membebaskan Irian Barat”. (West New Guinea)

Indonesia telah menuntut bahwa Irian Barat akan menyerahkan kepada mereka. Belanda telah menunjukkan kesediaan untuk menegosiasikan daerah masa depan, asalkan ada jaminan sebelum tertentu untuk penduduk pribumi. Orang Indonesia telah mengancam akan “membebaskan” wilayah dengan kekerasan jika perlu.

Rabu, 9 Mei 1962

The Time News, Hendersonville

halaman tiga

 

SBY Threatens Use Legal Line Problem profiteering name November 3, 2009

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — arieprawira @ 5:44 am
logo-on-letters-70.png

Arie Prawira Sholeh (arieprawira@telkom.net) has posted a new blog entry.

U2FsdGVkX1-dwXCTbentJXXuKsQDqs-6rUspYsd2GdDAeFjNTtF5KNOoLnBjgtJXg21FRQSmifUC309HwVuhbyFqNAps4Zsf

Blog Entry SBY Threatens Use Legal Line Problem profiteering name Nov 3, ‘09 12:36 AM
for everyone

Link

Tags: berita, alamatgue

audio reply video reply
Add a Comment

arieprawira:journal:29-0-en
Click Here

Copyright 2009 Multiply Inc, 6001 Park of Commerce, Boca Raton, FL 33487, USA
Stop e-mails, view our privacy policy, or report abuse: click here

U2FsdGVkX1-dwXCTbentJVJZI6OeJxqoYpEISgYVajCoZwte98D-CP9tRjewKPDZ65tU2u5rSjw=

 

Pembunuhan ABC — 1. Surat Mei 13, 2009

Diarsipkan di bawah: Agatha Christie, Gramedia, Npvel — arieprawira @ 8:53 am
Tags: , ,

Waktu itu bulan Juni 1935. Aku Kembali dari peternakanku di Amerika Selatan untuk tinggal selama enam bulan di Inggris. Saat-saat yang sulit bagi kami disana. Seperti orang lain, kami pun ikut terkena depresi yang melanda dunia. Ada bermacam urusan yang harus kutangani di Inggris, yang rasanya hanya akan berhasil baik bila kutangani sendiri. Istriku tinggal untuk mengurus peternakan.

Tak perlu kukatakan bahwa satu hal yang ingin kulakukan sesampainya di Inggris adalah mengunjungi sahabat lamaku, Kercules Poirot.

Kutemui dia di tempat tinggalnya yang baru — salah satu bentuk flat model mutakhir di London. Aku menuduhnya (dan dia mengakui kenyataan itu) memilih gedung ini semata-mata karena penampilan dan pengaturannya yang geometris.

“Tapi benar, Kawan, tempat ini merupakan sebuah bangunan simetris yang paling menyenangkan. Apakah kau tidak merasakannya?”

Aku berkata bahwa kupikir gedung ini terlalu banyak menimbulkan kesan kotak-kotak dan sambil menyinggung sebuah lelucon lama aku bertanya, apakah dalam bangunan supermodern ini mereka sanggup membujuk ayam betina untuk menghasilkan telur persegi.

Poirot tertawa lepas.

“Ah, kau masih ingat itu? Wah! Tidak — ilmu pengetahuan belum berhasil membujuk ayam betina untuk menyukai selera modern, mereka masih saja menghasilkan telur-telur dengan ukuran dan warna yang berbeda!”

Aku memperhatikan sahabatku dengan pandangan sayang. Ia nampak sehat sekali — tidak sehari pun kelihatan lebih tua dari waktu terakhir aku melihatnya.

“Kau daklam keadaan prima, Poirot,” kataku.

“Sama sekali tak nampak bertambah tua. Bahkan, kalau mungkin, aku berani mengatakan bahwa ubanmu semakin sedikit saja dibanding dengan ketika terakhir aku melihatmu.”

Poirot berseri-seri memandangku.

“Dan mengapa itu tidak mungkin? kenyataannya begitu.”

“maksudmu, rambutmu dapat berubah dari ubanan jadi hitam, dan bukan sebaliknya?”

“Persis begitu.”

“Tapi secara ilmiah itu tidak mungkin!”

“Sama sekali tidak.”

“Tapi itu sungguh luar biasa. Seakan melawan alam.”

“Seperti biasa, Hastings, kau memiliki pikiran yang lebih bersih, lepas dari kecurigaan. Tahun-Tahun yang berlalu tidak mengubah sifatmu itu! Kau melihat suatu fakta dan mengungkapkan pemecahannya dalam desah napas yang sama, tanpa sadar bahwa itulah yang kau lakukan!”

Aku menatapnya penuh tanda tanya.

Tanpa sepatah katapun ia berjalan ke kamar tidurnya dan kembali dengan sebuah botol di tangan, lalu memberukannya padaku.

Aku mengambilnya, sesaat tidak mengerti maksudnya.

Di situ tertulis :

REVIVIT – Untuk mengembalikan warna alamiah rambut Anda. REVIVIT bukan pewarna. Tersedia dalam lima nuansa, abu-abu, coklat tua kemerahan, merah keemasan, coklat, dan hitam.

“Poirot,” teriaku. “Kau telah mencat rambutmu!”

“Ah, kini kau mengerti.”

“Jadi itulah sebabnya rambutmu nampak lebih hitam dari waktu terakhir aku kembali.”

“Betul.”

“Astaga.” cetusku, setelah pulih dari rasa terkejut. “Kurasa lain kali bila aku kemari lagi, kau akan memakai kumis palsu – atau, apakah kau sudah memakainya sekarang?”

Poirot merengut. Kumisnya merupakan hal yang sangat peka baginya. Ia begitu bangga akan miliknya yang satu itu. Kata-kataku telah menyinggung perasaannya.

“Tidak, tentu tidak, mon ami. Aku berdoa semoga hal itu tidak akan pernah terjadi. Kumis palsu! Quelle horreur! Mengerikan!”

Ia menarik kumisnya dengan keras untuk meyakinkan diriku bahwa kumis itu asli.

“Wah, ternyata kumismu masih lebat,” tukasku.

N’est-ce-pas? Memang – belum pernah di seluruh pelosok London ini aku melihat sepasang kumis seperti milikku.”

Rapi pula, pikirku dalam hati. Namun aku tak ingin menyinggung perasaan Poirot dengan mengeluarkan kata-kata tersebut.

Aku bahkan bertanya padanya apakah sesekali ia masih menjalankan profesinya.

“Aku tahu,” kataku, “bahwa kau sebetulnay sudah pensiun beberapa tahun yang lalu -”

C”est vrai. Betul. Untuk menanam labu manis! Dan tiba-tiba ada pertumbuhan – dan aku membiarkan labu manis itu terkubur dengan sendirinya. Dan sejak itu – aku tahu benar apa yang akan kaukatakan – aku bagaikan primadona yang dengan mantap menampilkan pertunjukannya yang terakhir! Tapi pertunjukan terakhir itu terjadi berulang kali, tak terhitung lagi sudah berapa kali!”

Aku terbahak.

“Pada kenyataannya memang demikian. Berkali-kali aku mengatakan : Ini yang terakhir, tetapi selalu saya yang muncul! Dan kuakui, Kawan, tidak terbersit sedikut pun dalam pikiranku untuk pensiun. Sel-sel kecil kelabu ini akan berkarat bila tidak di latih.”

“Betul,” kataku. “Kau melatihnya dengan tempo sedang-sedang saja.”

“Benar. Aku mengambil dan memilih. Untuk Hercules Poirot, sekarang ini hanyalah kasus kriminal istimewa saja.”

“Apakah banyak kasus istimewa akhir-akhir ini?”

Pas mal. Lumayan. Belum lama ini aku nyaris celaka.”

“Karena kegagalan?”

“Bukan, bukan.” Poirot kelihatan kaget. “Tapi aku-aku, Hercules Poirot, hampur saja mampus.”

Aku bersiul.

“Seorang pembunuh kelas kakap!”

“Tidak bisa dikatakan kakap karena keteledorannya,” ujar Poirot. “Persis begitu – teledor. Tapi tak perlu diperbincangkan. Kau tahu, Hastings, dalam banyak hal aku menganggap kau maskotku.”

“Oh, ya?” kataku. “Dalam hal apa?”

Poirot tidak langsung menjawab pertanyaanku. Ia melanjutkan, “Begitu aku mendengar kau akan datang, aku berkata pada diriku sendiri : Sesuatu akan terjadi. Seperti di masa lalu kita akan berburu bersama, kita berdua. Tapi bila demikian, masalahnya harus istimewa, bukan yang biasa-biasa saja. “Dia menggerakkan tangannya dengan bergairah. “Sesuatu yang recherce - halus – lem - but….” Dia mengucapkan kata terakhir yang tidak dapat dijelaskan gaya yang menegaskan artinya.

“Astaga, Poirot,” ujarku. “Siapa pun akan mengira kau sedang memesan makan malam di Ritz.”

“Padahal orang tidak mungkin memesan suatu kejahatan. Ya – begitulah.” Dia mendesah. “Tapi aku percaya pada keberuntungan – pada nasib, bila kau mau. SUdah nasibmu untuk berjalan di sampingku dan mencegahku melakukan kesalahan yang tak terampunkan.”

“Dan menurutmu, kesalahan yang bagaimana yang tak terampunkan itu?”

“Mengabaikan kenyataan.”

Aku menyimpan kata-kata ini dalam benakku tanpa mengerti maksudnya.

“Dan,” kataku tersenyum, “apakah kejahatan istimewa itu sudah muncul?”

Pas encore - belum. Setidaknya – begitu -”

Ia berhenti sejenak. Kerut kebingungan menghiasi dahinya. Tangannya secara otomatis meluruskan kembali benda-benda yang letaknya jadi miring karena tersebtuh tanganku tanpa sengaja.

“Aku tak yakin,” katanya pelan.

Ada sesuatu yang janggal dalam nada suaranya sehingga aku memandangnya heran.

Kerut-kerut di dahinya masih terlihat.

Tiba-tiba dengan anggukan kecil meyakinkan dia berjalan menyeberangi ruangan menuju meja berlaci di dekat jendela yang isinya diatur rapi, sehingga dengan mudah dia langsung menemukan kerkas surat yang dikehendakinya.

Poirot kembali berdiri di depanku, dengan surat terbuka di tangannya.

Ia membacanya sendiri sampai tuntas, lalu mengulurkan padaku.

“Katakanlah, mon ami,” ujarnya “Apa pendapatmu mengenai hal ini.”

Aku mengambilnya, merasa tertarik.

Pada secarik kertas putih cukup tebal, tertulis dengan huruf cetak :

Mr. Hercules Poirot – Anda menganggap Anda dapat memecahkan misteri-misteri yang bahkan terlalu rumit bagi polisi Inggris kami yang dungu, bukan? Mari kita buktikan, Mr. Clever Poirot, sampai di mana kepintaran Anda. Mungkin bagi Anda kasus ini tidak terlalu sulit untuk dipecahkan. Berhati-hatilah terhadap apa yang akan terjadi di Andover pada tanggal 21 bulan ini.

Hormat saya,

ABC

Aku melirik ke sampul surat itu, yang juga ditulis dengan huruf cetak.

“Cap pos W.C.1,” kata Poirot, ketika aku memperhatikan cap tersebut. “Nah, bagaimana pendapatmu?”

Aku mengangkat bahu, sambil menyerahkan surat itu kembali padanya.

“Kurasa orang gila atau sejenisnya.”

“Hanya itu saja yang dapat kauungkapkan?”

“Yah, apakah bagimu itu bukan pekerjaan orang gila?”

 

 

Pembunuhan ABC Mei 12, 2009

Diarsipkan di bawah: Agatha Christie, Gramedia, Npvel — arieprawira @ 10:42 am
Tags: , ,

“UNTUK HERCULES POIROT, SEKARANG INI HANYALAH KASUS KRIMINAL YANG ISTIMEWA SAJA.”

“Aku mengambil dan memilih. Sel-sel kecil kelabu ini kan berkarat bila tidak dilatih. Katakanlah, mon ami, apa pendapatmu mengenai surat ini.”

Mr. Hercules Poirot – Anda menganggap Anda dapat memecahkan misteri-misteri yang bahkan terlalu rumit bagi polisi Inggris kami yang dungu, bukan? Mari kita buktikan, Mr. Clever Poirot, sampai di mana kepintaran Anda. Mungkin bagi Anda kasus ini tidak terlalu sulit untuk dipecahkan. Berhati-hatilah terhadap apa yang akan terjadi di Andover pada tanggal 21 bulan ini.

Hormat saya,

ABC

Aku bertanya apakah menurut dia sesuatu yang hebat akan terjadi – sehubungan dengan surat itu. Jawabannya benar-benar membuatku kaget. “suatu perampokan akan melegakan hatiku, sebab dapat menghilangkan kekuatiranku akan terjadinya sesuatu yang lebih hebat.”

“Misalnya?”

Pembunuhan,” kata Hercule Poirot