Belanda Kembali Bertempur Melawan Jepang

Kejadian yang akan terjadi besok pasti mengingatkan kita pada, peristiwa 68 tahun yang lalu. Tanggal 19 Juni 2010 Belanda akan kembali bertempur melawan Jepang. Kejadian itu sama seperti yang terjadi pada Tahun 1942, di mana Belanda harus berhadapan dengan Jepang, bertempur untuk mempertahankan negara jajahannya Hindia Belanda, saat ini Belanda pun harus berhadapan dengan Jepang, Lanjutkan membaca “Belanda Kembali Bertempur Melawan Jepang”

Iklan

Pesan Dr. R. Soetomo dan Orang Indonesia Yang Memihak Jepang

Pada awal penjajahan Jepang di Tahun 1943, Jepang berusaha memberitahukan kepada dunia kalau orang-orang Indonesia, Cina, dan orang dari bangsa lain di Hindia Belanda sangat bahagia menerima kehadiran Jepang.

Akan hal tersebut Dr. R Soetomo berpesan sebelum beliau berpulang pada Tahun 1938, begini bunyi pesannya: “Waspadalah terhadap Jepang,” kemudian ia menambahkan. “Berjuanglah untuk suatu kehidupan yang lebih baik (maksudnya adalah merdeka), Berjuanglah untuk menegakkan hak-hak Kita (bangsa Indonesia), dan berjuanglah standar hidup yang lebih tinggi (maksudnya adalah Kemakmuran). Tapi jangan ini dalam kerangka Kerajaan Belanda (maksudnya adalah hal ini harus dilakukan dalam kerangka Indonesia yang bebas dan Merdeka menjadi suatu bangsa yang berdaulat).” Begitulah pesan Soetomo yang meminta bangsa Indonesia merdeka agar memiliki kehidupan lebih baik, haknya tidak dilanggar, serta mencapai kemakmuran. Apakah hari ini sudah tercapai? Jawabannya ada di diri kita masing-masing.

Selain itu pada masa penjajahan Jepang banyak juga yang menjadi kaki tangan untuk keuntungan sendiri, Mr. Nadjarnoiddin seorang walikota di Makasar dan pernah menjabat sebagai Pejabat Bea Cukai di Surabaya, dia dipenjara karena melakukan penggelapan dan pemalsuan pada saat pemerintahan Belanda, sedangkan pada saat penjajahan Jepang, dia diangkat sebagai Walikota Makasar.

Kemudian yang lain adalah Rajah Coroh dari Timor, dia pernah digulingkan oleh Belanda karena berkuasa secara lalim dan kejam terhadap rakyatnya, yang kemudian di gantikan oleh adiknya yang selalu berbuat dan memikirkan kesejarteraan rakyat Timor. Pada saat penjajahan Jepang Rajah Coroh diangkat kembali menjadi Raja Timor.

Tokoh-tokoh Mr. Nadjarnoiddin dan Rajah Coroh belum tentu seperti apa yang dideskripsikan karena informasi ini berasal dari Koran Australia, namanya The Sidney Morning Herald, terbit pada tanggal 16 Oktober 1943.

Soekarno Jadi Ketua Poetera Pada Jaman Penjajahan Jepang

Di Hindia Belanda Jepang sulit memasukkan pengaruhnya, dan kesulitan untuk menemukan orang Indonesia terkemuka dan yang mau bekerja sama dengan mereka. Mereka akhirnya menentukan pilihannya pada Ir. Soekarno, seorang Nasionalis Jawa dengan semangat berapi-api, yang pernah diasingkan ke Sumatera oleh Belanda karena kegiatan-kegiatan revolusioner. Jepang mengangkat Soekarno sebagai ketua dari Poetera (Putera), atau disebut Pusat Tenaga Rakyat, tapi tampaknya Soekarno tidak terlalu diandalkan. Dia sudah tidak terdengar berpidato di radio untuk waktu yang lama, dan pernah ditangkap setidaknya sekali oleh penjajah Jepang.

The Sidney Morning Herald
Jum’at, 11 Agustus 1944

WordPress

Dalam rangka Bulan Bung Karno yang jatuh pada Bulan Juni.

Soekarno Berkata Indonesia Siap Untuk Melawan Apapun

Dr, Soekarno, Presiden Republik Indonesia, dan juru bicara Pemerintah Indonesia di luar Batavia, menyiarkan dalam bahasa Melayu dan Inggris dari Yogyakarta di Jawa, mengatakan Bahwa Indonesia bertekat atau jika diperlukan berjuang untuk kemerdekaan tidak peduli kekuatan apapun yang akan menghadangnya.

Soekarno hanya meminta pengakuan kemerdekaan dari PBB secara penuh, dan mengatakan bahwa tidak ada lagi yang akan memuaskan 70.000.000 penduduk Indonesia, selain pengakuan kemerdekaan. Perundingan yang akan diselenggarakan di Batavia, akanlah sia-sia kecuali orang Belanda mengakui keberadaan Republik.

Dr Soekarno juga mengatakan: “Tujuh puluh juta rakyat Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat, akan bekerja sama dalam bidang ekonomi dan politik dengan demokratis. Setelah mereka memenangkan kebebasan mereka, dan akan mempertahankannya dengan segala cara”.

Dr Van Mook, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, menyatakan: “Pemerintahan Sjahrir di Indonesia, tidak memiliki kewenangan untuk memerintah. Oleh karena itu kelompoknya adalah bukan pemerintah yang sah”. Dr Van Mook menambahkan, hal ini dilakukan kemarin dalam sebuah siaran dari Belanda. Dia berkata: “Perbuatan yang dituntut sekarang merupakan solusi dan mungkin tidak terlalu lama lagi. Piagam Atlantik menyuarakan perasaan kebencian Sekutu terhadap hubungan kolonial dengan negara yang menjajahnya, dan serangan diarahkan pada kami di Australia, India, dan Amerika Serikat adalah manifestasi roh internasional yang tidak akan mentolerir penaklukan dengan kekuatan setiap orang. Kami telah mengikuti dan memahami perkembangan ini. Ketika hubungan dibangun antara Belanda dan Indonesia mereka akan mampu bekerja sama, mengakhiri kebingungan dan memulai rekonstruksi “.

Beberapa pengamat Indonesia tampaknya yakin bahwa akan ada kebuntuan politik lebih lanjut dalam diskusi sehubungan dengan masa depan bangsa Indonesia, dan bahwa kelak pasti akan menimbulkan aksi militer dari Inggris dan Belanda besar-besaran, yang menyebabkan keadaan perang di Jawa. Memang, belum ada pembicaraan tertentu yang akan diadakan, terutama jika Indonesia telah menuntut pengakuan Belanda atas Pemerintah Indonesia secara tegas pada awal-awal pembicaraan.

Di sisi lain, walaupun Indonesia dalam keadaan sulit ada perasaan optimisme untuk disejajarkan dengan perwira-perwira dan pejabat Inggris, walaupun beberapa dari mereka merasa terusik atas pernyataan Dr Van Mook di London, mungkin juga disalahpahami oleh orang Indonesia . Seorang pejabat terkemuka mengatakan: “Saya menolak untuk menjadi apa pun namun optimis. Saya percaya bahwa proposal Belanda cukup fleksibel untuk memungkinkan penerimaan oleh orang Indonesia – mereka bersua didak diperbolehkan mengagalkan perundingan”.

Perdana Menteri Indonesia, Sjahrir, telah mengungkapkan rencana untuk memulangkan tawanan Jepang dan interniran Belanda dari Jawa. Dia mengatakan Jepang telah memilih pelabuhan Cirebon, yang terletak di Jawa bagian utara, untuk mengumpulkan pasukan dan kemudian dipulangkan oleh Inggris. Semua interniran Belanda dan Eurasia akan meninggalkan Jawa dan terlebih dahulu dibawa ke Batavia. Unit Penjaga Perdamaian PBB akan mengawal pemulangan pasukan Jepang ke Cirebon dan menjaga interniran yang menuju Batavia menggunaka kereta api.

Seribu lima ratus inertness Belanda, terutama perempuan dan anak-anak, akan meninggalkan Batavia dalam beberapa hari berikutnya menuju ke Australia dan New Zealand, mayoritas akan diangkut dengan kapal dan sebagian lagi akan diangkut dengan pesawat. Seribu lima ratus orang sudah berangkat menuju negara-negara tersebut, dan 1500 lebih akan dikirim kemudian. Dari total 4.500 orang Australia bersedia menampung 3000. Para pejabat Belanda mengatakan, Australia telah bersedia untuk menerima dan menampung lebih banyak tawanan, tetapi telah mengantisipasi dan merencanakan untuk tidak ada lagi penambahan dalam jumlah besar.

The Age, Melbourne

Senin, 7 January 1946

WordPress

Kalimantan Merupakan Sumber Bahan Bakar Yang Vital Bagi Jepang Pada Perang Dunia Kedua

Inilah sumber malapetaka besar bagi Jepang dan merupakan kemenangan besar Jenderal MacArthur yaitu dengan berhasil merebut Kalimantan – kemenangan tersebut dilakukan dengan invasi andalan menggunakan amfibi dan berhasil menguasai pelabuhan besar minyak Balikpapan di pantai timur – hal tersebut adalah kemenangan ganda.

Jenderal MacArthur sebagai Jenderal menangani sendiri, untuk menguasai dan mendominasi Kalimantan Sekutu telah membebaskan Hindia Belanda dan pada hakekatnya mereka telah menyelesaikan kendali taktis mereka atas Pasific barat daya.

Sumur-sumur minyak di Kalimantan menghasilkan minyak bumi dalam jumlah yang besar dan memiliki kemurnian yang baik sehingga dapat bermanfaat sekali bila digunakan sebagai bahan bakar, pelumasan, dan tenaga diesel tanpa harus dilakukan pemurnian terlebih dahulu. Penaklukan atas Kalimantan akan memberi kita pangkalan minyak sangat dibutuhkan tepat berada di jantung kekuatan dalam operasi untuk melawan Jepang. Sampai sekarang minyak kita masih harus diangkut baik dari pantai barat Amerika menyeberangi Pasifik, atau dari Teluk Persia dengan pengangkutan yang jauh dan lama melalui lautan India.

Selama perang dunia kedua, Kalimantan, menjadi sumber minyak utama bagi Jepang hingga tdiblokade oleh Sekutu sehingga jaringan komunikasi dengan Indonesia putus. Sejak saat itu Jepang sangat bergantung hanya dari cadangan minyak yang dimilikinya. Minyak bumi dari Kalimantan, Sumatera, dan Jawa untuk beberapa waktu ini telah menjadi seperti emas Midas bagi mereka yang tidak berharga.

Kami sangat menghargai Sekutu kami dari Australia atas perannya di Kalimantan. Divisi Ketujuh Australia yang naik ke darat di Balikpapan, seperti “Diggers” yang membuat pendaratan di Tarakan, di sebelah pantai timur laut Kalimantan, pada tanggal 1 Mei, dan di teluk Brunei, di sebelah pantai barat laut, pada tanggal 10 Juni.

Balikpapan sangat dipertahankan, tapi pemboman pra-invasi yang sangat intensif yang pernah ada di wilayah Pasifik barat daya mampu membuat perlawanan Jepang melunak, sehingga korban yang dialami Sekutu dilaporkan sangat sedikit. Australia telah mendaratkan pasukannya dengan armada kapal Sekutu dengan jumlah lebih dari 300 kapal yang berasal dari Amerika, Royal Australia (Angkatan Laut Australia), dan Royal Belanda (Angkatan Laut Belanda).

Kalimantan merupakan salah satu pulau terbesar di dunia selain Greenland dan New Guinea dan memiliki luas sekitar sepersepuluh luas daratan Australia. Posisinya sangat strategis terletak sebagai titik sentral dari sebuah kawasan antara wilayah Indo-Cina, Sumatra, dan Jawa, Sulawesi dan Filipina. Ini menjelaskan betapa pentingnya pernyataan MacArthur bahwa “pengiriman kita sekarang dapat berlayar dengan pangkalan udara yang mampu mengcover ke setiap titik di Pasifik barat daya.

The Gettysburg Times
Senin, 2 Juli 1945
ditulis dengan menggunakan WordPress

Indonesia Tidak Akan Bersatu, Karena Orang Manado dan Ambon Tidak Suka Soekarno

Perwakilan pemerintah Belanda yang hadir dalam penyerahan Jepang di Tokyo mengatakan kepada Associated Press pada tanggal 17 Desember 1945 bahwa kemerdekaan Indonesia akan menjadi ancaman terhadap perdamaian di wilayah Pasifik.

Hal itu diungkapkan oleh Laksamana Sir Conrad Helfrich, komandan pasukan bersenjata di Hindia Belanda dengan tanpa basa-basi dan blak-blakan mengatakan negara seperti itu tidak mungkin membela diri.

“Setiap orang yang berpikir Indonesia akan menjadi negara yang merdeka adalah salah,” kata Helfrich, “karena terdapat 137 suku dan kelompok masyarakat yang berbeda-beda di Kepulauan itu, sehingga mereka akan saling menyerang. Contohnya adalah sudah ada orang Manado dan Ambon yang tidak menyukai Soekarno, sedangkan kabupaten Batam di wilayah Jawa Barat menyatakan diri terlepas dari pemerintahan Soekarno.” “Menurut saya – nama Indonesia bukanlah apa-apa dan itu semua omong kosong.”

“Dalam tiga bulan terakhir di Jawa menjadi lebih manja apabila dibandingkan dengan tiga setengah tahun dibawah kekuasaan Jepang,” Laksamana menambahkan. “Penjarahan merupakan reaksi yang wajar, dan saya heran karena hanya ada sedikit yang melakukan penjarahan – mereka mengatakan hanya ada tujuh penangkapan yang terjadi di Bandung, dan bukan 700.”

“Sebagian besar rumah, mobil, industri, perusahaan, perkebunan, kapal, kereta api, dan kantor di Jawa merupakan milik Belanda dan dikelola oleh orang-orang Belanda.”

“Apa yang kami temukan setelah Jepang menyerah adalah orang-orang Belanda sebagai tawanan di kamp-kamp sementara orang-orang Indonesia tinggal di rumah besar dengan perabotan kami, mengemudikan mobil kami, menjalankan pekerjaan umum dengan mesin-mesin kami, dan industri dengan bahan kami.”

Laksamana sedikit pedas melanjutkan, “Jika setelah tiga bulan tanpa perbaikan orang Belanda melakukan penjarahan kecil, itu reaksi yang wajar dan dalam upaya untuk mendapatkan kembali yang dimilikinya dahulu. Orang-orang Indonesia, yang kita sebut pemberontak, masih tinggal di rumah-rumah jarahan yang sama. Jika orang Belanda menjadi gila itu karena kita tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan kembali hal-hal yang kita miliki. Ini karena orang Belanda yang biasany berjalan kaki, bersepeda, atau berkumpul diangkut dengan truk seperti hewan ternak, sementara itu orang Indonesia mengendarai mobil-mobil kami disekitarnya.”

The Spokesman Review

Selasa, 18 Desember 1945

ditulis dengan blog dari WordPress

Tugas-tugas Militer Inggris dalam Perang Dunia Kedua di Indonesia

Menteri Luar Negeri Ernest Bevin menanggapi kritikan atas peran Inggris di Indonesia kepada parlemen. “Bahwa tugas ini telah dialokasikan untuk Inggris Raya untuk dan atas nama Sekutu, dalam tugas itu Kami bertugas untuk menyelesaikan perang dengan Jepang, dan dalam melakukan tugas ini Laksamana Mountbatten telah melakukannya dengan baik sesuai dengan yang diatur dalam Perjanjian Penyerahan (Surrender Agreement) yang ditandatangani oleh Jenderal MacArthur selaku komandan tertinggi Pasukan Sekutu.

Mr Bevin menguraikan tugas-tugas militer Inggris di Indonesia, sebagai berikut: (1) melucuti dan menghimpun pasukan Jepang; (2) menyelamatkan dan membawa pulang tawanan perang; (3) melepaskan tawanan. Pasukan Inggris sangat-sangat dikejutkan oleh perlawanan dari pribumi yang dipersenjatai oleh Jepang dengan senjata api, mortir, kendaraan lapis baja, dan bahkan tank kecil.

Singkat kata, Menteri Luar Negeri menyampaikan kepada parlemen bahwa Inggris tidak ingin campur tangan terhadap urusan dalam negeri Jawa dan akan meninggalkan Jawa segera setelah ketertiban dipulihkan.

Bahwa yang perlu diingat Parlemen adalah “bahwa kita tidak mungkin dan tidak akan mungkin meninggalkan tugas-tugas yang telah diberikan kepada kita oleh Jenderal Mac Arthur.

Kami punya hak mengetahui apakah Inggris sedang menjalankan kebijakan untuk melakukan imperialistik di Jawa demi untuk tujuan sendiri, atau kah berusaha melakukan apa yang dilakukan oleh pasukan Amerika di Cina Utara, yaitu ketika mereka melucuti pasukan Jepang yang akhirnya menyulut konflik dalam negeri antara Cina Komunis dan Nasionalis.

Kami telah memiliki catatan mengenai penyimpangan yang terjadi di Indonesia, misalnya laporan yang berlawanan, bahwa tidak ada tentara Jepang yang terlibat dalam penyerangan. Beberapa pasukan yang sedang bertugas diserang oleh Indonesia dan mereka melakukan pertahanan diri. Banyak tentara Jepang yang tidak dilucuti kemudian membantu atau berpihak kepada kelompok perlawanan Indonesia kata Mountbatten.

Rabu, 5 Desember 1945

The Milwaukee Journal

halaman 18

tulisan ini di tulis pada WordPress

Inggris Menggunakan Pesawat Untuk Menghentikan Perang di Jawa dan Kronologis Kematian Mallaby

Pesawat Inggris berkumpul kemarin untuk mencegah perlawanan baru oleh warga negara Indonesia dalam memerangi kembalinya kekuasaan Belanda di Indonesia.

Gencatan senjata diberlakukan di kota Magelang Jawa Tengah dimana pesawat perang Inggris dibantu pasukan India Inggris mengambil kembali kendali atas kota. Pertempuran terus berlanjut, bagaimanapun, selama empat jam setelah gencatan senjata itu diatur antara Dr Achmed Soekarno, presiden republik Indonesia memproklamirkan diri, dan komandan Inggris, Brigjen. Richard Bethell.

Kantor berita Aneta melaporkan bahwa nara sumber dari republik di Batavia Rabu malam mengatakan pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan dalam menangani permasalahan tentang Indonesia akan diselesaikan oleh Gubernur Hubertus J. van Mook sebagai perwakilan pemerintah belanda di Hindia Belanda. Pemerintah Belanda di Den Haag menyatakan bahwa Van Mook telah bertindak melawan instruksi dalam pertemuan dengan Soekarno.

Situasi di Surabaya, tempat pertempuran besar terjadi dan di mana Brigjen. Inggris Aubertin WS Malaby dibunuh oleh orang Indonesia Selasa malam.

Para juru bicara memberikan rincian awal mengenai kematian Mallaby. Dia mengatakan Mallaby meninggalkan markasnya didampingi oleh dua perwira staf dengan sebuah mobil sambil mengibarkan bendera putih untuk mencoba untuk menghentikan pertempuran antara pasukan Inggris dan Indonesia di alun-alun bank Internasional.

Setelah itu, Mallaby berusaha untuk menyeberangi jembatan. Kemudia tanpa disengaja dia berhadapan dengan massa yang lain. Dua laki-laki muncul dan berteriak: “Buatlah kami meletakkan senjata kami. Buatlah kami menyerah.”

Kata juru bicara, Mallaby dan dua perwira ditangani dengan kasar. revolver Mallaby disambar dari tangannya. Massa menolak untuk mengizinkan dia untuk mendekati pasukan Inggris untuk memberikan perintah. Seorang kapten yang menemani Mallaby berusaha menarik dan menjahui dari kerumunan serta berusaha kembali ke pasukan Inggris. Mengetahu hal tersebut pasukan Inggris mulai menembak dan berusaha memubarkan kerumunan massa.

Selama pertempuran itu, dua orang Indonesia mendekati mobil dan memanggil nama Mallaby. Dia bersandar dari jendela dan ditembak. Kapten RC Smith dan Shaw Laughlan, keduanya terluka sedikit tapi berhasil meloloskan diri dari lemparan granat tangan dan terjun ke dalam sungai. Keduanya sekarang naik kapal perang Inggris di pelabuhan Surabaya.

ST. Petersburg Times

November 1945

Ditulis dengan blog WordPress.

Setalah Pertempuran Surabaya dilanjutkan dengan Pertempuran Ambarawa atau Palagan Ambarawa

Surabaya Membuat Serangan

Oleh Ralph Morton

Batavia, Jawa, Nov 27, Indonesia di Surabaya meluncurkan serangan balasan terhadap pasukan Inggris di kota usang hari ini, dan laporan seorang pejabat Inggris mengatakan serangan baru di Ambarawa dan Bandung.

Pesisir Semarang tetap kesulitan tempat. Kantor berita Belanda, Aneta mengatakan Inggris mengkupas hancur di kota daerah tempat kantong perlawanan Indonesia memegang keluar. Pelaut Inggris dipasang menjaga di bagian kota yang aman.

Di Batavia, pemimpin Belanda terkemuka dan pekerja Palang Merah mengajukan petisi kepada pemerintah Hindia Belanda bahwa 200.000 wanita, anak-anak dan orang lanjut usia dan sakit dievakuasi dari Jawa tertunda “yang kembali waktu normal “.

Permohonan mengklaim bahwa orang yang sama yang telah menderita di bawah Jepang kini sedang diserang oleh Indonesia dan menyatakan “orang-orang yang telah menderita begitu banyak yang sudah tidak tahan lagi tegang”.

Balasan yang Indonesia di Surabaya dilakukan oleh suatu kekuatan dari 50 orang Indonesia dengan bantuan kecil tank Jepang. India Inggris patroli daerah dekat rumah sakit terpaksa mundur.

Orang Indonesia juga menyerang interniran yang dibebaskan dari kamp dan polisi di Ambarawa, 30 kilometer selatan Semarang, dan memaksa pasukan Jepang yang menjaga kamp dan 10.000 tahanan sipil untuk pensiun dalam daerah kamp untuk malam.

Inggris kemarin mengirim tiga pembom RAF nyamuk ke dalam pertempuran untuk Ambarawa dan pesawat, dengan menggunakan senapan mesin dan kanon, memberondong konsentrasi pasukan dan menyerang penghalang jalan, gudang dan transportasi kolom.

Di Bandung sebuah perusahaan Inggris yang kembali dari kawasan lapangan udara itu terlambat dan diyakini telah diselenggarakan oleh penghalang jalan.

Prescott Evening Courier

Prescott, Arizona, Tuesday, November 27, 1945

Page one

Pertempuran di Surabaya dan Kematian Brigadir Mallaby

JAWA: jalannya Kekaisaran

Senin, November 12, 1945

Berkobar pertempuran baru di Hindia Belanda minggu lalu. Gerakan nasionalis tampaknya keluar dari kontrol para pemimpinnya. Di Surabaya 1.600 pasukan Inggris, diserang oleh pasukan Jawa dalam jumlah yang banyak, dipersenjatai dengan peralatan Jepang yang baik, termasuk tank, sudah sekitar 100 korban. Presiden Soekarno  “Republik Indonesia” terbang dari Batavia untuk memberikan perintah gencatan senjata. Hari berikutnya Komandan Inggris, Brigadir Aubertin WS Mallaby terbunuh oleh masa yang sedang marah di Surabaya.

Pengintai Inggris menunjukkan bahwa sampai 100.000 pasukan Indonesia, yang termasuk perlengkapan Jepang sebanyak 62 pesawat, ada massa di Jawa Tengah. Inggris sendiri mulai pendaratan divisi kedua, bergegas dengan lebih banyak kapal perang dan pesawat. Sebagian besar pasukan Inggris tentara India yang memiliki sedikit menyukai untuk pekerjaan.

Soekarno tidak mampu menyerukan kepada para pengikutnya untuk menghentikan pertempuran. Hubertus van Mook Berkacamata, pejabat Gubernur berpengalaman, telah diingatkan kembali oleh Pemerintah untuk bersedia berunding dengan Soekarno. Belanda tidak ingin kehilangan bagian terkaya dari kerajaan mereka, jangan lupa bahwa Soekarno adalah kepala boneka Jepang di Jawa, dan masih benci untuk mengakui bahwa Indonesia dapat memiliki politik matang selama pendudukan Jepang. Mereka mengatakan kepada Van Mook bahwa ia mungkin berhadapan dengan pemimpin asli lain, tetapi tidak pernah dengan Soekarno.

Nasionalis. Peristiwa tersebut telah membawa Soekarno yang langsing dan pandai bicara di sebuah rumah mewah di Batavia bagian Eropa. Di sana ia dengan senang hati dan nyaman berpose bersama istri kedua merupakan perempuan Jawa yang cantik dan anak lelakinya yang berusia sepuluh bulan. Dia menjawab dengan tegas pertanyaan tentang siaran anti-Sekutu masa perang dan perjalanan ke Jepang dengan mengklaim bahwa ia hanya bekerja sama untuk mendapatkan konsesi bagi Negara dan Rakyatnya. Jika pewawancara terus menanyainya tentang kolaborasi, biasanya ada sebuah jeda sementara gadis  Indonesia rupawan melayani kue dan air jahe panas.

Jika disejajarkan Soekarno adalah Kerensky dari revolusi Indonesia, Wakil  Presidennya, Mohammad Hatta, berusia 43, mungkin Lenin. Tajam, cerdas, berpendidikan Eropa, Hatta membentuk kelompok nasionalis pertama di usia 15, seperti Soekarno diasingkan oleh Belanda.

Kedua ternyata tidak sepenuhnya percaya satu sama lain, biasanya diwawancarai bersama sehingga masing-masing dapat memeriksa apa kata yang lain. Hatta merancang gerakan konstitusi, yang dipenuhi dengan klausul melarikan diri (Presiden memiliki kekuasaan diktator “di masa kritis;” kebebasan berbicara dan berkumpul tidak dijamin, tapi “harus disediakan”).

Tokoh Gerakan penting yang ketiga dan negarawan tua adalah Palim, 61 tahun, salah satu dari para pendirinya. Dia bekerja di layanan kolonial Belanda selama bertahun-tahun, memimpin gerakan menyamar untuk kemerdekaan sampai tahun 1938, sekarang berkonsultasi dengan para pemimpin muda pada semua masalah utama. Palim memperingatkan: “Kami sudah 350 tahun menerima janji-janji dari Belanda: Kami tidak ingin apa-apa lagi dari mereka. Jika anda ingin memulai Pertempuran besar lagi, kirim kembali Belanda ke Indonesia.” Ketika ditanya apakah ia akan memilih pemerintahan kolonial Inggris kepada pemerintahan Belanda, ia menjawab: “Apakah kau lebih suka digigit oleh kucing dari anjing?”

http://www.time.com