Wawancara Wartawan The Times dan The Glasgow Herald dengan Soekarno

Wartawan tersebut dipanggil pada hari Kamis oleh Dr Soekarno, Presiden, Republik Indonesia; Dr Mohamad Hatta, Wakil Presiden; dan Dr Subardjo, Menteri Luar Negeri, di kediaman Presiden. Ketika mobil melaju di di gerbang kediaman Presiden, penjaga berseragam hijau memberikan hormat semi Fasis dengan jari mereka yang menyebar.

Pada saat wawancara, Soekarno mengatakan dia ingin menghindari gangguan pada saat ini dan masa yang akan dating, dan dia ingin melihat masalah Indonesia diselesaikan dengan cara damai. Tidak bosan Soekarno memberikan perintah kepada seluruh rakyat dan tentara Indonesia untuk memelihara perdamaian dan ketentraman. Lanjutkan membaca “Wawancara Wartawan The Times dan The Glasgow Herald dengan Soekarno”

Ikan Dalam Air Milik Bambang Hidayat

Setelah menulis Masa Kelam Selama Penjajahan Jepang, saya mendapatkan email dari seorang yang awalnya saya tidak mengenalnya, tapi ternyata sering saya kirimi email tulisan-stulisan sejarah, ya beliau Bambang Hidayat, emailnya menanyakan kenapa tanggapannya direject oleh multiply. Setelah saya mencari nama Bambang Hidayat yang tinggal di Bandung melaui mbah google, wah saya jadi terkaget-kaget beliau Guru Besar dari ITB dalam bidang astronomi, wih jadi merasa tersanjung. Lanjutkan membaca “Ikan Dalam Air Milik Bambang Hidayat”

Soekarno Jadi Ketua Poetera Pada Jaman Penjajahan Jepang

Di Hindia Belanda Jepang sulit memasukkan pengaruhnya, dan kesulitan untuk menemukan orang Indonesia terkemuka dan yang mau bekerja sama dengan mereka. Mereka akhirnya menentukan pilihannya pada Ir. Soekarno, seorang Nasionalis Jawa dengan semangat berapi-api, yang pernah diasingkan ke Sumatera oleh Belanda karena kegiatan-kegiatan revolusioner. Jepang mengangkat Soekarno sebagai ketua dari Poetera (Putera), atau disebut Pusat Tenaga Rakyat, tapi tampaknya Soekarno tidak terlalu diandalkan. Dia sudah tidak terdengar berpidato di radio untuk waktu yang lama, dan pernah ditangkap setidaknya sekali oleh penjajah Jepang.

The Sidney Morning Herald
Jum’at, 11 Agustus 1944

WordPress

Dalam rangka Bulan Bung Karno yang jatuh pada Bulan Juni.

Soekarno Berkata Indonesia Siap Untuk Melawan Apapun

Dr, Soekarno, Presiden Republik Indonesia, dan juru bicara Pemerintah Indonesia di luar Batavia, menyiarkan dalam bahasa Melayu dan Inggris dari Yogyakarta di Jawa, mengatakan Bahwa Indonesia bertekat atau jika diperlukan berjuang untuk kemerdekaan tidak peduli kekuatan apapun yang akan menghadangnya.

Soekarno hanya meminta pengakuan kemerdekaan dari PBB secara penuh, dan mengatakan bahwa tidak ada lagi yang akan memuaskan 70.000.000 penduduk Indonesia, selain pengakuan kemerdekaan. Perundingan yang akan diselenggarakan di Batavia, akanlah sia-sia kecuali orang Belanda mengakui keberadaan Republik.

Dr Soekarno juga mengatakan: “Tujuh puluh juta rakyat Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat, akan bekerja sama dalam bidang ekonomi dan politik dengan demokratis. Setelah mereka memenangkan kebebasan mereka, dan akan mempertahankannya dengan segala cara”.

Dr Van Mook, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, menyatakan: “Pemerintahan Sjahrir di Indonesia, tidak memiliki kewenangan untuk memerintah. Oleh karena itu kelompoknya adalah bukan pemerintah yang sah”. Dr Van Mook menambahkan, hal ini dilakukan kemarin dalam sebuah siaran dari Belanda. Dia berkata: “Perbuatan yang dituntut sekarang merupakan solusi dan mungkin tidak terlalu lama lagi. Piagam Atlantik menyuarakan perasaan kebencian Sekutu terhadap hubungan kolonial dengan negara yang menjajahnya, dan serangan diarahkan pada kami di Australia, India, dan Amerika Serikat adalah manifestasi roh internasional yang tidak akan mentolerir penaklukan dengan kekuatan setiap orang. Kami telah mengikuti dan memahami perkembangan ini. Ketika hubungan dibangun antara Belanda dan Indonesia mereka akan mampu bekerja sama, mengakhiri kebingungan dan memulai rekonstruksi “.

Beberapa pengamat Indonesia tampaknya yakin bahwa akan ada kebuntuan politik lebih lanjut dalam diskusi sehubungan dengan masa depan bangsa Indonesia, dan bahwa kelak pasti akan menimbulkan aksi militer dari Inggris dan Belanda besar-besaran, yang menyebabkan keadaan perang di Jawa. Memang, belum ada pembicaraan tertentu yang akan diadakan, terutama jika Indonesia telah menuntut pengakuan Belanda atas Pemerintah Indonesia secara tegas pada awal-awal pembicaraan.

Di sisi lain, walaupun Indonesia dalam keadaan sulit ada perasaan optimisme untuk disejajarkan dengan perwira-perwira dan pejabat Inggris, walaupun beberapa dari mereka merasa terusik atas pernyataan Dr Van Mook di London, mungkin juga disalahpahami oleh orang Indonesia . Seorang pejabat terkemuka mengatakan: “Saya menolak untuk menjadi apa pun namun optimis. Saya percaya bahwa proposal Belanda cukup fleksibel untuk memungkinkan penerimaan oleh orang Indonesia – mereka bersua didak diperbolehkan mengagalkan perundingan”.

Perdana Menteri Indonesia, Sjahrir, telah mengungkapkan rencana untuk memulangkan tawanan Jepang dan interniran Belanda dari Jawa. Dia mengatakan Jepang telah memilih pelabuhan Cirebon, yang terletak di Jawa bagian utara, untuk mengumpulkan pasukan dan kemudian dipulangkan oleh Inggris. Semua interniran Belanda dan Eurasia akan meninggalkan Jawa dan terlebih dahulu dibawa ke Batavia. Unit Penjaga Perdamaian PBB akan mengawal pemulangan pasukan Jepang ke Cirebon dan menjaga interniran yang menuju Batavia menggunaka kereta api.

Seribu lima ratus inertness Belanda, terutama perempuan dan anak-anak, akan meninggalkan Batavia dalam beberapa hari berikutnya menuju ke Australia dan New Zealand, mayoritas akan diangkut dengan kapal dan sebagian lagi akan diangkut dengan pesawat. Seribu lima ratus orang sudah berangkat menuju negara-negara tersebut, dan 1500 lebih akan dikirim kemudian. Dari total 4.500 orang Australia bersedia menampung 3000. Para pejabat Belanda mengatakan, Australia telah bersedia untuk menerima dan menampung lebih banyak tawanan, tetapi telah mengantisipasi dan merencanakan untuk tidak ada lagi penambahan dalam jumlah besar.

The Age, Melbourne

Senin, 7 January 1946

WordPress

Indonesia Tidak Akan Bersatu, Karena Orang Manado dan Ambon Tidak Suka Soekarno

Perwakilan pemerintah Belanda yang hadir dalam penyerahan Jepang di Tokyo mengatakan kepada Associated Press pada tanggal 17 Desember 1945 bahwa kemerdekaan Indonesia akan menjadi ancaman terhadap perdamaian di wilayah Pasifik.

Hal itu diungkapkan oleh Laksamana Sir Conrad Helfrich, komandan pasukan bersenjata di Hindia Belanda dengan tanpa basa-basi dan blak-blakan mengatakan negara seperti itu tidak mungkin membela diri.

“Setiap orang yang berpikir Indonesia akan menjadi negara yang merdeka adalah salah,” kata Helfrich, “karena terdapat 137 suku dan kelompok masyarakat yang berbeda-beda di Kepulauan itu, sehingga mereka akan saling menyerang. Contohnya adalah sudah ada orang Manado dan Ambon yang tidak menyukai Soekarno, sedangkan kabupaten Batam di wilayah Jawa Barat menyatakan diri terlepas dari pemerintahan Soekarno.” “Menurut saya – nama Indonesia bukanlah apa-apa dan itu semua omong kosong.”

“Dalam tiga bulan terakhir di Jawa menjadi lebih manja apabila dibandingkan dengan tiga setengah tahun dibawah kekuasaan Jepang,” Laksamana menambahkan. “Penjarahan merupakan reaksi yang wajar, dan saya heran karena hanya ada sedikit yang melakukan penjarahan – mereka mengatakan hanya ada tujuh penangkapan yang terjadi di Bandung, dan bukan 700.”

“Sebagian besar rumah, mobil, industri, perusahaan, perkebunan, kapal, kereta api, dan kantor di Jawa merupakan milik Belanda dan dikelola oleh orang-orang Belanda.”

“Apa yang kami temukan setelah Jepang menyerah adalah orang-orang Belanda sebagai tawanan di kamp-kamp sementara orang-orang Indonesia tinggal di rumah besar dengan perabotan kami, mengemudikan mobil kami, menjalankan pekerjaan umum dengan mesin-mesin kami, dan industri dengan bahan kami.”

Laksamana sedikit pedas melanjutkan, “Jika setelah tiga bulan tanpa perbaikan orang Belanda melakukan penjarahan kecil, itu reaksi yang wajar dan dalam upaya untuk mendapatkan kembali yang dimilikinya dahulu. Orang-orang Indonesia, yang kita sebut pemberontak, masih tinggal di rumah-rumah jarahan yang sama. Jika orang Belanda menjadi gila itu karena kita tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan kembali hal-hal yang kita miliki. Ini karena orang Belanda yang biasany berjalan kaki, bersepeda, atau berkumpul diangkut dengan truk seperti hewan ternak, sementara itu orang Indonesia mengendarai mobil-mobil kami disekitarnya.”

The Spokesman Review

Selasa, 18 Desember 1945

ditulis dengan blog dari WordPress

Inggris Menggunakan Pesawat Untuk Menghentikan Perang di Jawa dan Kronologis Kematian Mallaby

Pesawat Inggris berkumpul kemarin untuk mencegah perlawanan baru oleh warga negara Indonesia dalam memerangi kembalinya kekuasaan Belanda di Indonesia.

Gencatan senjata diberlakukan di kota Magelang Jawa Tengah dimana pesawat perang Inggris dibantu pasukan India Inggris mengambil kembali kendali atas kota. Pertempuran terus berlanjut, bagaimanapun, selama empat jam setelah gencatan senjata itu diatur antara Dr Achmed Soekarno, presiden republik Indonesia memproklamirkan diri, dan komandan Inggris, Brigjen. Richard Bethell.

Kantor berita Aneta melaporkan bahwa nara sumber dari republik di Batavia Rabu malam mengatakan pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan dalam menangani permasalahan tentang Indonesia akan diselesaikan oleh Gubernur Hubertus J. van Mook sebagai perwakilan pemerintah belanda di Hindia Belanda. Pemerintah Belanda di Den Haag menyatakan bahwa Van Mook telah bertindak melawan instruksi dalam pertemuan dengan Soekarno.

Situasi di Surabaya, tempat pertempuran besar terjadi dan di mana Brigjen. Inggris Aubertin WS Malaby dibunuh oleh orang Indonesia Selasa malam.

Para juru bicara memberikan rincian awal mengenai kematian Mallaby. Dia mengatakan Mallaby meninggalkan markasnya didampingi oleh dua perwira staf dengan sebuah mobil sambil mengibarkan bendera putih untuk mencoba untuk menghentikan pertempuran antara pasukan Inggris dan Indonesia di alun-alun bank Internasional.

Setelah itu, Mallaby berusaha untuk menyeberangi jembatan. Kemudia tanpa disengaja dia berhadapan dengan massa yang lain. Dua laki-laki muncul dan berteriak: “Buatlah kami meletakkan senjata kami. Buatlah kami menyerah.”

Kata juru bicara, Mallaby dan dua perwira ditangani dengan kasar. revolver Mallaby disambar dari tangannya. Massa menolak untuk mengizinkan dia untuk mendekati pasukan Inggris untuk memberikan perintah. Seorang kapten yang menemani Mallaby berusaha menarik dan menjahui dari kerumunan serta berusaha kembali ke pasukan Inggris. Mengetahu hal tersebut pasukan Inggris mulai menembak dan berusaha memubarkan kerumunan massa.

Selama pertempuran itu, dua orang Indonesia mendekati mobil dan memanggil nama Mallaby. Dia bersandar dari jendela dan ditembak. Kapten RC Smith dan Shaw Laughlan, keduanya terluka sedikit tapi berhasil meloloskan diri dari lemparan granat tangan dan terjun ke dalam sungai. Keduanya sekarang naik kapal perang Inggris di pelabuhan Surabaya.

ST. Petersburg Times

November 1945

Ditulis dengan blog WordPress.

Kabinet Sjahrir didukung oleh Badan Pekerja KNIP

Sjahrir Sebagai Perdana Menteri juga merangkap sebagai Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri. Sementara Itu Amir Sjarifuddin tetap menjabat sebagai Menteri Informasi (Menteri Penerangan) dan merangkap menjadi menjadi Menteri Keamanan Dalam Negeri (Menteri Keamanan Rakyat).

Syarifuddin, yang pernah dipenjarakan oleh Jepang, kemarin di Yogyakarta terpilih sebagai Ketua sayap sosialis Gerakan Pemuda Nasionalis. Dalam pidatonya Dia mengatakan bahwa perubahan kebijakan baru ini akan memberikan pembagian kekuasaan yang lebih besar, tapi Dr Soekarno akan terus sebagai pemimpin spiritual bangsa Indnesia.

Susuna Kabinet lengkap, yang hampir seluruhnya dipilih dari Komite Kerja Nasionalis, sebagai berikut: Perdana Menteri merangkap Menteri Dalam Negeri dan Menteri Luar Negeri dijabat oleh Sutan Sjahrir; Menteri Keuangan dijabat oleh Profesor Sunaryo Kolopakeng; Menteri Pendidikan dijabat oleh DR. TSB Mulia; Menteri Kehakiman dijabat oleh Dr Suwandi; Menteri Dinas Sosial dijabat oleh Dr Adgimao; Menteri Kesehatan Umum dijabat oleh Dr Darma Setiawan; Menteri Kesejahteraan dijabat oleh Dr Darmawan; Menteri Pekerjaan Umum dijabat oleh Dr Putuhena; Menteri Negara dijabat oleh Hai Rasyda.

Diberitakan oleh perwakilan khusus A. A. P.

Tulisan ini bersumber dari

The Sydney Morning Herald

Wednesday, November 14, 1945

Ditulis dengan blog WordPress.

Pengkhianatan Terhadap UUD 45 Pertama Kali

Inilah suatu pengingkaran terhadap konstitusi Indonesia yang diatur dengan Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 45), pengingkaran tersebut dengan diangkatnya Jabatan Perdana Menteri di Indonesia, hal tersebut tidak lah sesuai dengan ketentuan yang diatur oleh UUD 45, dimana kepala negara dan kepala pemerintahan di jabat rangkap oleh presiden.

Jabatan Perdana Menteri pada saat itu di emban oleh Sutan Sjahrir sebagaimana dilansir oleh Surat kabar Australia, sebagai berikut:

Kutip

Perdana Menteri Baru di Indonesia

Menghapuskan Kolaborasi

Diberitakan oleh perwakilan khusus A. A. P.

Batavia, Nov 13. – Sutan Sjahrir, 36, digambarkan sebagai seorang moderat yang menginginkan kerjasama dengan Inggris, hari ini ditunjuk sebagai Perdana Menteri Pemerintah Republik Indonesia.”

Sistem Ketatanegaraan yang dianut oleh UUD 45 adalah system Presidential hampir sama seperti yang dianut oleh Amerika Serikat, akan tetapi dengan pengangkatan Perdana Menteri maka model ketatanegaraan berubah total menyerupai Perancis, serti dikutip pada artikel yang sama.

“Dia akan membuat perubahan besar dalam konstitusi dari “Republik”, di mana kekuasaan eksekutif akan diberikan dalam Kabinet yang bertanggung jawab kepada rakyat, bukan kepada Presiden. Dr Soekarno dengan demikian akan benar-benar kehilangan kekuatan diktator dan menjadi presiden pada model Perancis, bukan Amerika, di mana konstitusi itu sekarang seolah-olah menganut model tersebut.”

Pengingkaran terhadap UUD 45 ini dimaksudkan untuk menghilangkan anggapan bahwa Indonesia merupakan Negara boneka buatan Jepang, sebagaimana digembor-gemborkan oleh Belanda, itulah yang dikatakan oleh Sjahrir setelah dirinya diangkat menjadi Perdana Menteri Indonesia, berikut kutipannya

“Sjahrir mengatakan pada hari ini (pada saat pengangkatan Sjahrir menjadi Perdana Menteri), bahwa Indonesia harus membebaskan dirinya dari “noda moral kolaborasi dengan Jepang”.”

Tulisan ini bersumber dari

The Sydney Morning Herald

Wednesday, November 14, 1945

Ditulis dengan blog WordPress.

Pertempuran di Surabaya dan Kematian Brigadir Mallaby

JAWA: jalannya Kekaisaran

Senin, November 12, 1945

Berkobar pertempuran baru di Hindia Belanda minggu lalu. Gerakan nasionalis tampaknya keluar dari kontrol para pemimpinnya. Di Surabaya 1.600 pasukan Inggris, diserang oleh pasukan Jawa dalam jumlah yang banyak, dipersenjatai dengan peralatan Jepang yang baik, termasuk tank, sudah sekitar 100 korban. Presiden Soekarno  “Republik Indonesia” terbang dari Batavia untuk memberikan perintah gencatan senjata. Hari berikutnya Komandan Inggris, Brigadir Aubertin WS Mallaby terbunuh oleh masa yang sedang marah di Surabaya.

Pengintai Inggris menunjukkan bahwa sampai 100.000 pasukan Indonesia, yang termasuk perlengkapan Jepang sebanyak 62 pesawat, ada massa di Jawa Tengah. Inggris sendiri mulai pendaratan divisi kedua, bergegas dengan lebih banyak kapal perang dan pesawat. Sebagian besar pasukan Inggris tentara India yang memiliki sedikit menyukai untuk pekerjaan.

Soekarno tidak mampu menyerukan kepada para pengikutnya untuk menghentikan pertempuran. Hubertus van Mook Berkacamata, pejabat Gubernur berpengalaman, telah diingatkan kembali oleh Pemerintah untuk bersedia berunding dengan Soekarno. Belanda tidak ingin kehilangan bagian terkaya dari kerajaan mereka, jangan lupa bahwa Soekarno adalah kepala boneka Jepang di Jawa, dan masih benci untuk mengakui bahwa Indonesia dapat memiliki politik matang selama pendudukan Jepang. Mereka mengatakan kepada Van Mook bahwa ia mungkin berhadapan dengan pemimpin asli lain, tetapi tidak pernah dengan Soekarno.

Nasionalis. Peristiwa tersebut telah membawa Soekarno yang langsing dan pandai bicara di sebuah rumah mewah di Batavia bagian Eropa. Di sana ia dengan senang hati dan nyaman berpose bersama istri kedua merupakan perempuan Jawa yang cantik dan anak lelakinya yang berusia sepuluh bulan. Dia menjawab dengan tegas pertanyaan tentang siaran anti-Sekutu masa perang dan perjalanan ke Jepang dengan mengklaim bahwa ia hanya bekerja sama untuk mendapatkan konsesi bagi Negara dan Rakyatnya. Jika pewawancara terus menanyainya tentang kolaborasi, biasanya ada sebuah jeda sementara gadis  Indonesia rupawan melayani kue dan air jahe panas.

Jika disejajarkan Soekarno adalah Kerensky dari revolusi Indonesia, Wakil  Presidennya, Mohammad Hatta, berusia 43, mungkin Lenin. Tajam, cerdas, berpendidikan Eropa, Hatta membentuk kelompok nasionalis pertama di usia 15, seperti Soekarno diasingkan oleh Belanda.

Kedua ternyata tidak sepenuhnya percaya satu sama lain, biasanya diwawancarai bersama sehingga masing-masing dapat memeriksa apa kata yang lain. Hatta merancang gerakan konstitusi, yang dipenuhi dengan klausul melarikan diri (Presiden memiliki kekuasaan diktator “di masa kritis;” kebebasan berbicara dan berkumpul tidak dijamin, tapi “harus disediakan”).

Tokoh Gerakan penting yang ketiga dan negarawan tua adalah Palim, 61 tahun, salah satu dari para pendirinya. Dia bekerja di layanan kolonial Belanda selama bertahun-tahun, memimpin gerakan menyamar untuk kemerdekaan sampai tahun 1938, sekarang berkonsultasi dengan para pemimpin muda pada semua masalah utama. Palim memperingatkan: “Kami sudah 350 tahun menerima janji-janji dari Belanda: Kami tidak ingin apa-apa lagi dari mereka. Jika anda ingin memulai Pertempuran besar lagi, kirim kembali Belanda ke Indonesia.” Ketika ditanya apakah ia akan memilih pemerintahan kolonial Inggris kepada pemerintahan Belanda, ia menjawab: “Apakah kau lebih suka digigit oleh kucing dari anjing?”

http://www.time.com

Perang Gerilya Dimulai Untuk Melawan Belanda dan Bali pun Mulai Bergerak

Indonesia Menyatakan Perang

Racun Menjadi Senjata Nasionalis Untuk Melawan Belanda dan Eurasia

Batavia, Jawa – Indonesia rakyat tentara, cabang militer rezim nasionalis yang dipimpin oleh Dr IR Soekarno, Sabtu mengeluarkan proklamasi menyatakan perang terhadap semua Belanda, Indo, dan Ambon, kata Aneta kantor berita Belanda.

yang suka berperang Ambon, penduduk pulau Ambon (Amboina), telah dilengkapi banyak pasukan untuk tentara Hindia Belanda.

(Kabar dari United Press  mengutip surat kabar nasionalis Batavia Merkeda yang mengatakan kota Mageland, di Jawa Timur, benar-benar di tangan nasionalis Indonesia.)

Aneta mengutip proklamasi seperti menetapkan bahwa permusuhan akan dimulai saat matahari terbenam. Menambahkan perintah:

“Senjata perang adalah segala jenis senjata api, juga racun, panah beracun, dan panah, semua metode pembakaran dan segala jenis binatang liar, seperti ular misalnya.

“Perang gerilya akan ditingkatkan oleh perang ekonomi. Tidak ada makanan dapat dijual kepada musuh. Pasar akan dijaga ketat, dan musuh-musuh kita akan dihukum berat”.

Pada hari Sabtu Polisi militer Jepang menempatkan senapan mesin dan tank di Batavia dan mendirikan barikade dan penghalang jalan setelah serangan sporadis tapi liar oleh pribumi. Indonesia dilaporkan akan mengambil alih kendali kota di Jawa tengah dan barat.

Gerakan nasionalis juga dilaporkan memperoleh kekuatan di Bali, pulau kecil milik Belanda di timur Jawa.

Mayor Jenderal Sir Philip Christison, Panglima Sekutu, mengirim ultimatum kepada Jepang untuk menggunakan kekuatan yang dominan untuk menyingkirkan pemberontakan, tapi jelas bahwa hanya di Batavia Sekutu dan Jepang mempunyai cukup kekuatan untuk menjaga situasi.

The Milwaukee Journal

Minggu, Oktober 14, 1945

Home Edition