Kisah Terbentuknya Konstitusi RIS

Terbentuknya Konstitusi RIS bersamaan dengan ditandatangani Kesepakatan Meja Bundar Antara delegasi Indonesia dan Belanda di kota Den Hang. Kesepakatan Meja Bundar tersebut menghasilkan Negara Republik Indonesia Serikat (RIS) dan terbentuk Konstitusi RIS yang bersifat sementara. Lanjutkan membaca “Kisah Terbentuknya Konstitusi RIS”

Indonesia Tidak Akan Bersatu, Karena Orang Manado dan Ambon Tidak Suka Soekarno

Perwakilan pemerintah Belanda yang hadir dalam penyerahan Jepang di Tokyo mengatakan kepada Associated Press pada tanggal 17 Desember 1945 bahwa kemerdekaan Indonesia akan menjadi ancaman terhadap perdamaian di wilayah Pasifik.

Hal itu diungkapkan oleh Laksamana Sir Conrad Helfrich, komandan pasukan bersenjata di Hindia Belanda dengan tanpa basa-basi dan blak-blakan mengatakan negara seperti itu tidak mungkin membela diri.

“Setiap orang yang berpikir Indonesia akan menjadi negara yang merdeka adalah salah,” kata Helfrich, “karena terdapat 137 suku dan kelompok masyarakat yang berbeda-beda di Kepulauan itu, sehingga mereka akan saling menyerang. Contohnya adalah sudah ada orang Manado dan Ambon yang tidak menyukai Soekarno, sedangkan kabupaten Batam di wilayah Jawa Barat menyatakan diri terlepas dari pemerintahan Soekarno.” “Menurut saya – nama Indonesia bukanlah apa-apa dan itu semua omong kosong.”

“Dalam tiga bulan terakhir di Jawa menjadi lebih manja apabila dibandingkan dengan tiga setengah tahun dibawah kekuasaan Jepang,” Laksamana menambahkan. “Penjarahan merupakan reaksi yang wajar, dan saya heran karena hanya ada sedikit yang melakukan penjarahan – mereka mengatakan hanya ada tujuh penangkapan yang terjadi di Bandung, dan bukan 700.”

“Sebagian besar rumah, mobil, industri, perusahaan, perkebunan, kapal, kereta api, dan kantor di Jawa merupakan milik Belanda dan dikelola oleh orang-orang Belanda.”

“Apa yang kami temukan setelah Jepang menyerah adalah orang-orang Belanda sebagai tawanan di kamp-kamp sementara orang-orang Indonesia tinggal di rumah besar dengan perabotan kami, mengemudikan mobil kami, menjalankan pekerjaan umum dengan mesin-mesin kami, dan industri dengan bahan kami.”

Laksamana sedikit pedas melanjutkan, “Jika setelah tiga bulan tanpa perbaikan orang Belanda melakukan penjarahan kecil, itu reaksi yang wajar dan dalam upaya untuk mendapatkan kembali yang dimilikinya dahulu. Orang-orang Indonesia, yang kita sebut pemberontak, masih tinggal di rumah-rumah jarahan yang sama. Jika orang Belanda menjadi gila itu karena kita tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan kembali hal-hal yang kita miliki. Ini karena orang Belanda yang biasany berjalan kaki, bersepeda, atau berkumpul diangkut dengan truk seperti hewan ternak, sementara itu orang Indonesia mengendarai mobil-mobil kami disekitarnya.”

The Spokesman Review

Selasa, 18 Desember 1945

ditulis dengan blog dari WordPress