Soekarno Berkata Indonesia Siap Untuk Melawan Apapun

Dr, Soekarno, Presiden Republik Indonesia, dan juru bicara Pemerintah Indonesia di luar Batavia, menyiarkan dalam bahasa Melayu dan Inggris dari Yogyakarta di Jawa, mengatakan Bahwa Indonesia bertekat atau jika diperlukan berjuang untuk kemerdekaan tidak peduli kekuatan apapun yang akan menghadangnya.

Soekarno hanya meminta pengakuan kemerdekaan dari PBB secara penuh, dan mengatakan bahwa tidak ada lagi yang akan memuaskan 70.000.000 penduduk Indonesia, selain pengakuan kemerdekaan. Perundingan yang akan diselenggarakan di Batavia, akanlah sia-sia kecuali orang Belanda mengakui keberadaan Republik.

Dr Soekarno juga mengatakan: “Tujuh puluh juta rakyat Indonesia akan menjadi bangsa yang kuat, akan bekerja sama dalam bidang ekonomi dan politik dengan demokratis. Setelah mereka memenangkan kebebasan mereka, dan akan mempertahankannya dengan segala cara”.

Dr Van Mook, Gubernur Jenderal Hindia Belanda, menyatakan: “Pemerintahan Sjahrir di Indonesia, tidak memiliki kewenangan untuk memerintah. Oleh karena itu kelompoknya adalah bukan pemerintah yang sah”. Dr Van Mook menambahkan, hal ini dilakukan kemarin dalam sebuah siaran dari Belanda. Dia berkata: “Perbuatan yang dituntut sekarang merupakan solusi dan mungkin tidak terlalu lama lagi. Piagam Atlantik menyuarakan perasaan kebencian Sekutu terhadap hubungan kolonial dengan negara yang menjajahnya, dan serangan diarahkan pada kami di Australia, India, dan Amerika Serikat adalah manifestasi roh internasional yang tidak akan mentolerir penaklukan dengan kekuatan setiap orang. Kami telah mengikuti dan memahami perkembangan ini. Ketika hubungan dibangun antara Belanda dan Indonesia mereka akan mampu bekerja sama, mengakhiri kebingungan dan memulai rekonstruksi “.

Beberapa pengamat Indonesia tampaknya yakin bahwa akan ada kebuntuan politik lebih lanjut dalam diskusi sehubungan dengan masa depan bangsa Indonesia, dan bahwa kelak pasti akan menimbulkan aksi militer dari Inggris dan Belanda besar-besaran, yang menyebabkan keadaan perang di Jawa. Memang, belum ada pembicaraan tertentu yang akan diadakan, terutama jika Indonesia telah menuntut pengakuan Belanda atas Pemerintah Indonesia secara tegas pada awal-awal pembicaraan.

Di sisi lain, walaupun Indonesia dalam keadaan sulit ada perasaan optimisme untuk disejajarkan dengan perwira-perwira dan pejabat Inggris, walaupun beberapa dari mereka merasa terusik atas pernyataan Dr Van Mook di London, mungkin juga disalahpahami oleh orang Indonesia . Seorang pejabat terkemuka mengatakan: “Saya menolak untuk menjadi apa pun namun optimis. Saya percaya bahwa proposal Belanda cukup fleksibel untuk memungkinkan penerimaan oleh orang Indonesia – mereka bersua didak diperbolehkan mengagalkan perundingan”.

Perdana Menteri Indonesia, Sjahrir, telah mengungkapkan rencana untuk memulangkan tawanan Jepang dan interniran Belanda dari Jawa. Dia mengatakan Jepang telah memilih pelabuhan Cirebon, yang terletak di Jawa bagian utara, untuk mengumpulkan pasukan dan kemudian dipulangkan oleh Inggris. Semua interniran Belanda dan Eurasia akan meninggalkan Jawa dan terlebih dahulu dibawa ke Batavia. Unit Penjaga Perdamaian PBB akan mengawal pemulangan pasukan Jepang ke Cirebon dan menjaga interniran yang menuju Batavia menggunaka kereta api.

Seribu lima ratus inertness Belanda, terutama perempuan dan anak-anak, akan meninggalkan Batavia dalam beberapa hari berikutnya menuju ke Australia dan New Zealand, mayoritas akan diangkut dengan kapal dan sebagian lagi akan diangkut dengan pesawat. Seribu lima ratus orang sudah berangkat menuju negara-negara tersebut, dan 1500 lebih akan dikirim kemudian. Dari total 4.500 orang Australia bersedia menampung 3000. Para pejabat Belanda mengatakan, Australia telah bersedia untuk menerima dan menampung lebih banyak tawanan, tetapi telah mengantisipasi dan merencanakan untuk tidak ada lagi penambahan dalam jumlah besar.

The Age, Melbourne

Senin, 7 January 1946

WordPress

Iklan

Indonesia Tidak Akan Bersatu, Karena Orang Manado dan Ambon Tidak Suka Soekarno

Perwakilan pemerintah Belanda yang hadir dalam penyerahan Jepang di Tokyo mengatakan kepada Associated Press pada tanggal 17 Desember 1945 bahwa kemerdekaan Indonesia akan menjadi ancaman terhadap perdamaian di wilayah Pasifik.

Hal itu diungkapkan oleh Laksamana Sir Conrad Helfrich, komandan pasukan bersenjata di Hindia Belanda dengan tanpa basa-basi dan blak-blakan mengatakan negara seperti itu tidak mungkin membela diri.

“Setiap orang yang berpikir Indonesia akan menjadi negara yang merdeka adalah salah,” kata Helfrich, “karena terdapat 137 suku dan kelompok masyarakat yang berbeda-beda di Kepulauan itu, sehingga mereka akan saling menyerang. Contohnya adalah sudah ada orang Manado dan Ambon yang tidak menyukai Soekarno, sedangkan kabupaten Batam di wilayah Jawa Barat menyatakan diri terlepas dari pemerintahan Soekarno.” “Menurut saya – nama Indonesia bukanlah apa-apa dan itu semua omong kosong.”

“Dalam tiga bulan terakhir di Jawa menjadi lebih manja apabila dibandingkan dengan tiga setengah tahun dibawah kekuasaan Jepang,” Laksamana menambahkan. “Penjarahan merupakan reaksi yang wajar, dan saya heran karena hanya ada sedikit yang melakukan penjarahan – mereka mengatakan hanya ada tujuh penangkapan yang terjadi di Bandung, dan bukan 700.”

“Sebagian besar rumah, mobil, industri, perusahaan, perkebunan, kapal, kereta api, dan kantor di Jawa merupakan milik Belanda dan dikelola oleh orang-orang Belanda.”

“Apa yang kami temukan setelah Jepang menyerah adalah orang-orang Belanda sebagai tawanan di kamp-kamp sementara orang-orang Indonesia tinggal di rumah besar dengan perabotan kami, mengemudikan mobil kami, menjalankan pekerjaan umum dengan mesin-mesin kami, dan industri dengan bahan kami.”

Laksamana sedikit pedas melanjutkan, “Jika setelah tiga bulan tanpa perbaikan orang Belanda melakukan penjarahan kecil, itu reaksi yang wajar dan dalam upaya untuk mendapatkan kembali yang dimilikinya dahulu. Orang-orang Indonesia, yang kita sebut pemberontak, masih tinggal di rumah-rumah jarahan yang sama. Jika orang Belanda menjadi gila itu karena kita tidak diberi kesempatan untuk mendapatkan kembali hal-hal yang kita miliki. Ini karena orang Belanda yang biasany berjalan kaki, bersepeda, atau berkumpul diangkut dengan truk seperti hewan ternak, sementara itu orang Indonesia mengendarai mobil-mobil kami disekitarnya.”

The Spokesman Review

Selasa, 18 Desember 1945

ditulis dengan blog dari WordPress

Tugas-tugas Militer Inggris dalam Perang Dunia Kedua di Indonesia

Menteri Luar Negeri Ernest Bevin menanggapi kritikan atas peran Inggris di Indonesia kepada parlemen. “Bahwa tugas ini telah dialokasikan untuk Inggris Raya untuk dan atas nama Sekutu, dalam tugas itu Kami bertugas untuk menyelesaikan perang dengan Jepang, dan dalam melakukan tugas ini Laksamana Mountbatten telah melakukannya dengan baik sesuai dengan yang diatur dalam Perjanjian Penyerahan (Surrender Agreement) yang ditandatangani oleh Jenderal MacArthur selaku komandan tertinggi Pasukan Sekutu.

Mr Bevin menguraikan tugas-tugas militer Inggris di Indonesia, sebagai berikut: (1) melucuti dan menghimpun pasukan Jepang; (2) menyelamatkan dan membawa pulang tawanan perang; (3) melepaskan tawanan. Pasukan Inggris sangat-sangat dikejutkan oleh perlawanan dari pribumi yang dipersenjatai oleh Jepang dengan senjata api, mortir, kendaraan lapis baja, dan bahkan tank kecil.

Singkat kata, Menteri Luar Negeri menyampaikan kepada parlemen bahwa Inggris tidak ingin campur tangan terhadap urusan dalam negeri Jawa dan akan meninggalkan Jawa segera setelah ketertiban dipulihkan.

Bahwa yang perlu diingat Parlemen adalah “bahwa kita tidak mungkin dan tidak akan mungkin meninggalkan tugas-tugas yang telah diberikan kepada kita oleh Jenderal Mac Arthur.

Kami punya hak mengetahui apakah Inggris sedang menjalankan kebijakan untuk melakukan imperialistik di Jawa demi untuk tujuan sendiri, atau kah berusaha melakukan apa yang dilakukan oleh pasukan Amerika di Cina Utara, yaitu ketika mereka melucuti pasukan Jepang yang akhirnya menyulut konflik dalam negeri antara Cina Komunis dan Nasionalis.

Kami telah memiliki catatan mengenai penyimpangan yang terjadi di Indonesia, misalnya laporan yang berlawanan, bahwa tidak ada tentara Jepang yang terlibat dalam penyerangan. Beberapa pasukan yang sedang bertugas diserang oleh Indonesia dan mereka melakukan pertahanan diri. Banyak tentara Jepang yang tidak dilucuti kemudian membantu atau berpihak kepada kelompok perlawanan Indonesia kata Mountbatten.

Rabu, 5 Desember 1945

The Milwaukee Journal

halaman 18

tulisan ini di tulis pada WordPress

Inggris Menggunakan Pesawat Untuk Menghentikan Perang di Jawa dan Kronologis Kematian Mallaby

Pesawat Inggris berkumpul kemarin untuk mencegah perlawanan baru oleh warga negara Indonesia dalam memerangi kembalinya kekuasaan Belanda di Indonesia.

Gencatan senjata diberlakukan di kota Magelang Jawa Tengah dimana pesawat perang Inggris dibantu pasukan India Inggris mengambil kembali kendali atas kota. Pertempuran terus berlanjut, bagaimanapun, selama empat jam setelah gencatan senjata itu diatur antara Dr Achmed Soekarno, presiden republik Indonesia memproklamirkan diri, dan komandan Inggris, Brigjen. Richard Bethell.

Kantor berita Aneta melaporkan bahwa nara sumber dari republik di Batavia Rabu malam mengatakan pemerintah Belanda mengeluarkan kebijakan dalam menangani permasalahan tentang Indonesia akan diselesaikan oleh Gubernur Hubertus J. van Mook sebagai perwakilan pemerintah belanda di Hindia Belanda. Pemerintah Belanda di Den Haag menyatakan bahwa Van Mook telah bertindak melawan instruksi dalam pertemuan dengan Soekarno.

Situasi di Surabaya, tempat pertempuran besar terjadi dan di mana Brigjen. Inggris Aubertin WS Malaby dibunuh oleh orang Indonesia Selasa malam.

Para juru bicara memberikan rincian awal mengenai kematian Mallaby. Dia mengatakan Mallaby meninggalkan markasnya didampingi oleh dua perwira staf dengan sebuah mobil sambil mengibarkan bendera putih untuk mencoba untuk menghentikan pertempuran antara pasukan Inggris dan Indonesia di alun-alun bank Internasional.

Setelah itu, Mallaby berusaha untuk menyeberangi jembatan. Kemudia tanpa disengaja dia berhadapan dengan massa yang lain. Dua laki-laki muncul dan berteriak: “Buatlah kami meletakkan senjata kami. Buatlah kami menyerah.”

Kata juru bicara, Mallaby dan dua perwira ditangani dengan kasar. revolver Mallaby disambar dari tangannya. Massa menolak untuk mengizinkan dia untuk mendekati pasukan Inggris untuk memberikan perintah. Seorang kapten yang menemani Mallaby berusaha menarik dan menjahui dari kerumunan serta berusaha kembali ke pasukan Inggris. Mengetahu hal tersebut pasukan Inggris mulai menembak dan berusaha memubarkan kerumunan massa.

Selama pertempuran itu, dua orang Indonesia mendekati mobil dan memanggil nama Mallaby. Dia bersandar dari jendela dan ditembak. Kapten RC Smith dan Shaw Laughlan, keduanya terluka sedikit tapi berhasil meloloskan diri dari lemparan granat tangan dan terjun ke dalam sungai. Keduanya sekarang naik kapal perang Inggris di pelabuhan Surabaya.

ST. Petersburg Times

November 1945

Ditulis dengan blog WordPress.

Sepak Terjang Sjahrir Setelah Menjabat Sebagai Perdana Menteri Indonesia

Tindakan pertama Sjahrir sebagai Perdana Menteri adalah memerintahkan penyelidikan secara mendalam apa yang terjadi di Surabaya, Apakah, sebagai akibat dari perang gerilya oleh ekstremis, atau ofensif besar-besaran yang diluncurkan pasukan pendudukan Britania terhadap Indonesia.

Sjahrir hari ini mengatakan: “Kita harus melakukan protes kepada Britania, tetapi kita juga harus melihat ke dalam tindakan-tindakan orang-orang kita sendiri, yang belum jelas. Kita harus membereskan masalah dengan Inggris dan membiarkan mereka melanjutkan tugas mereka.”

Inilah tugas Ingris di Indonesia [Tugas Inggris adalah untuk melucuti Jepang, membebaskan tawanan perang dan interniran, dan memulihkan hukum dan ketertiban.]

Sjahrir menyadari bahwa Peristiwa Surabaya tidak meningkatkan kasus Indonesia di mata dunia. Sjahrir menyatakan bahwa Indonesia harus membebaskan dirinya dari moral-noda karena dianggap bekerja-sama dengan Jepang, dengan terhubung langsung dalam penggulingan Dr Soebarjo dan Dr Hatta, “Wakil Presiden,” yang selalu dihubungkan dengan bayang-bayang Jepang, dan memberhentikan kepala departemen yang loyal pada saat penjajahan Jepang. Sjahrir mengatakan yang harus selali dan dia yang paling diingat, adalah bahwa Indonesia harus membebaskan dirinya dari semua ide yang mungkin telah menyerap dari Jepang, dan yang mengilhami para pemuda untuk melihat kekerasan sebagai satu-satunya ekspresi nasionalisme.

Lima hari lalu Sjahrir mengeluarkan sebuah pamflet yang aneh dalam nada moderat, yang berbicara tentang “penyakit” yang banyak diderita oleh orang muda Indonesia, dan mengatakan kekerasan adalah metode jangka pendek dari sebuah nasionalis, tapi tidak akan menjadi yang terbaik dalam jangka panjang .

Setelah Konferensi Pemuda Nasionalis di Yogyakarta Sjarifuddin berkata: “Kami ingin pemuda untuk ambil bagian dalam pekerjaan rekonstruksi. Pemerintah akan berusaha mengirim mereka kembali ke sekolah.

Diberitakan oleh staf kami wartawan, CC Eager, dan AAP, di Surabaya, November 13

Bersumber dari

The Sydney Morning Herald

Wednesday, November 14, 1945

Ditulis dengan blog WordPress.

Pertempuran 10 November di Surabaya Menggunakan Taktik dari Jepang

Pada pertempuran 10 November di Surabaya Indonesia berjuang dengan pantang menyerah persis dengan tata cara bertempur pasukan Jepang. Dengan taktik dan tata cara bertempur seperti itu mampu menghambat pergerakan maju pasukan Inggris di Surabaya

Pasukan Inggris dan India mendarat di Surabaya mendapatkan perlawanan yang sengit, akan tetapi bukan perlawanan oleh rakyat jelata Indonesia, melainkan oleh pasukan yang terlatih dengan tabiat yang keras kepala atau tidak mudah menyerah.

Pasukan terlatih tersebut hari ini menyerang dimana Surabaya masih dalam keadaan bumi hangus akibat pertempuran sengit di pusat kota. Pergerakan mereka hanya tinggal menyisakan sekitar lima kilo lagi untuk menguasai bagian lain dari kota.

Di markas besar Jenderal Christison hari ini mengumumkan sebuah pernyataan bahwa mereka telah menemukan mayat dua orang Jepang yang mengenakan seragam Jepang, mayat tersebut ditemukan di sebuah bunker Indonesia yang digunakan untuk menyerbu di Surabaya. “Taktik yang digunakan oleh orang Indonesia adalah berasal dari standar dan praktik bertempur dari orang Jepang”. Mereka juga menyatakan hal sebagai berikut “Ada sedikit keraguan bahwa beberapa orang Jepang masih aktif terlibat dalam kerusuhan di Surabaya.

Diberitakan oleh staf kami wartawan, CC Eager, dan AAP, di Surabaya, November 13

Bersumber dari

The Sydney Morning Herald

Wednesday, November 14, 1945

Ditulis dengan blog WordPress.

Inilah Peran Jepang Dalam Pertempuran Sengit di Surabaya

Sebenarnya apakah mungkin Indonesia menang dalam pertempuran sengit dan hebat di Surabaya tanggal 10 November 1945, bila dinalar memang sangat tidak mungkin, akan tetapi walaupun Jepang menjajah Indonesia selama 3,5 tahun, Jepang memberikan kotribusi yang sangat baik untuk angkatan perang Indonesia pada awal kemerdekaan. Berikut bukti peran jepang terhadap kemerdekaan dan kemenangan di pertempuran 10 November 1945.

Bantuan Jepang kepada Indonesia

bukti kuat adanya kerjasama

Batavia, Kamis, Siaran khusus melalui radio Surabaya selama dua malam telah menganjurkan dengan kata-kata yang jelas bahwa tidak hanya ada Jepang di Surabaya akan tetapi ada beberapa dari mereka yang aktif membantu Indonesia.

Indonesia menggunakan taktik khas Jepang, hal tersebut tidaklah mengejutkan, karena mereka telah dilatih oleh Jepang, tapi lebih dari itu, mereka menembak dengan cara yang baik, seperti saat ujian berperang.

Hal tersebut merupakan bukti yang kuat, harus diakui, walaupun masih kurang, tetapi tetap merupakan bukti yang kuat. Pernyataan tersebut tentus aja harus di keluarkan secara hati-hati karena banyak pengamat yang akan mengatakan bahwa Indonesia sebagai Negara yang kecil dan mamapu bertindak tanpa bantuan dari Negara lain.

Berharap untuk “datang-kembali”.

Bahwa Jepang memang memiliki organisasi rahasia tertentu yang ditugaskan untuk menghadapai Sekutu. Pemimpin militer berpikir untuk kembali, dan tidak ada yang sesuai dengan tujuan pasca-perang lebih baik mengumpulkan Negara-negara yang bergolak di Asia Tenggara terhadap sentimen Barat dan membutuhkan teknisi kemungkinan atas bantuan dari Jepang.

Jepang minim kemampuan sebagai diplomat, Jepang telah menunjukkan diri mereka di Cina dan tempat lain, bahwa Jepang memiliki bakat alami sebagai agen provokator. Dalam pidato perpisahan yang ditujukan kepada perwira yang mendukung Jepang dan Korps Sukarelawan Pertahanan Indonesia yang dilatih oleh Jepang pada 17 Agustus, Jenderal Nagano menjelaskan bahwa ia mengharapkan mereka untuk melanjutkan perjuangan kemerdekaan dengan kekuatan.

Tidak ada yang mengetahui dengan persis dari mana garnisun Jepang Surabaya berasal, yang berjumlah lebih dari 20.000 orang. Markas Besar Angkatan Darat Jepang ke-16 di Bandung menyatakan bahwa mereka telah kehilangan kontak dengan mereka selama beberapa minggu. Harus segera mungkin untuk membuat jelas sampai sejauh mana perlawanan Indonesia ini disebabkan oleh semangat nasionalis dan sejauh mana itu karena manipulasi dan bantuan langsung Jepang.

Pembersihan di Surabaya terus dilakukan secara. Meskipun perlawanan Indonesia dilaporkan menjadi memakin keras. korban kami sangat ringan.

Konferensi Dibatalkan

Reuter menambahkan bahwa pertemuan antara Dr Van Mook, Letnan-Gubernur Hindia Belanda dan pemimpin Republik Indonesia di kediaman Jenderal Chirstison, Panglima Tertinggi Sekutu, kemarin malam dibatalkan pada saat terakhir kantor berita Belanda melaporkan.

Mr Sutan Sharir, Perdana Menteri Indonesia yang baru, berkata “Saya mengerti Inggris membatalkan pertemuan.”

Pihak berwenang Belanda menyatakan mereka “tidak berwenang untuk mengungkapkan alasan mengapa pertemuan itu dibatalkan,” kata lembaga itu. HQ Inggris mengumumkan “Pernyataan lengkap akan dibuat besok.”

The Glasgow Herald

Jumat, November 16, 1946

Setalah Pertempuran Surabaya dilanjutkan dengan Pertempuran Ambarawa atau Palagan Ambarawa

Surabaya Membuat Serangan

Oleh Ralph Morton

Batavia, Jawa, Nov 27, Indonesia di Surabaya meluncurkan serangan balasan terhadap pasukan Inggris di kota usang hari ini, dan laporan seorang pejabat Inggris mengatakan serangan baru di Ambarawa dan Bandung.

Pesisir Semarang tetap kesulitan tempat. Kantor berita Belanda, Aneta mengatakan Inggris mengkupas hancur di kota daerah tempat kantong perlawanan Indonesia memegang keluar. Pelaut Inggris dipasang menjaga di bagian kota yang aman.

Di Batavia, pemimpin Belanda terkemuka dan pekerja Palang Merah mengajukan petisi kepada pemerintah Hindia Belanda bahwa 200.000 wanita, anak-anak dan orang lanjut usia dan sakit dievakuasi dari Jawa tertunda “yang kembali waktu normal “.

Permohonan mengklaim bahwa orang yang sama yang telah menderita di bawah Jepang kini sedang diserang oleh Indonesia dan menyatakan “orang-orang yang telah menderita begitu banyak yang sudah tidak tahan lagi tegang”.

Balasan yang Indonesia di Surabaya dilakukan oleh suatu kekuatan dari 50 orang Indonesia dengan bantuan kecil tank Jepang. India Inggris patroli daerah dekat rumah sakit terpaksa mundur.

Orang Indonesia juga menyerang interniran yang dibebaskan dari kamp dan polisi di Ambarawa, 30 kilometer selatan Semarang, dan memaksa pasukan Jepang yang menjaga kamp dan 10.000 tahanan sipil untuk pensiun dalam daerah kamp untuk malam.

Inggris kemarin mengirim tiga pembom RAF nyamuk ke dalam pertempuran untuk Ambarawa dan pesawat, dengan menggunakan senapan mesin dan kanon, memberondong konsentrasi pasukan dan menyerang penghalang jalan, gudang dan transportasi kolom.

Di Bandung sebuah perusahaan Inggris yang kembali dari kawasan lapangan udara itu terlambat dan diyakini telah diselenggarakan oleh penghalang jalan.

Prescott Evening Courier

Prescott, Arizona, Tuesday, November 27, 1945

Page one

Pertempuran di Surabaya dan Kematian Brigadir Mallaby

JAWA: jalannya Kekaisaran

Senin, November 12, 1945

Berkobar pertempuran baru di Hindia Belanda minggu lalu. Gerakan nasionalis tampaknya keluar dari kontrol para pemimpinnya. Di Surabaya 1.600 pasukan Inggris, diserang oleh pasukan Jawa dalam jumlah yang banyak, dipersenjatai dengan peralatan Jepang yang baik, termasuk tank, sudah sekitar 100 korban. Presiden Soekarno  “Republik Indonesia” terbang dari Batavia untuk memberikan perintah gencatan senjata. Hari berikutnya Komandan Inggris, Brigadir Aubertin WS Mallaby terbunuh oleh masa yang sedang marah di Surabaya.

Pengintai Inggris menunjukkan bahwa sampai 100.000 pasukan Indonesia, yang termasuk perlengkapan Jepang sebanyak 62 pesawat, ada massa di Jawa Tengah. Inggris sendiri mulai pendaratan divisi kedua, bergegas dengan lebih banyak kapal perang dan pesawat. Sebagian besar pasukan Inggris tentara India yang memiliki sedikit menyukai untuk pekerjaan.

Soekarno tidak mampu menyerukan kepada para pengikutnya untuk menghentikan pertempuran. Hubertus van Mook Berkacamata, pejabat Gubernur berpengalaman, telah diingatkan kembali oleh Pemerintah untuk bersedia berunding dengan Soekarno. Belanda tidak ingin kehilangan bagian terkaya dari kerajaan mereka, jangan lupa bahwa Soekarno adalah kepala boneka Jepang di Jawa, dan masih benci untuk mengakui bahwa Indonesia dapat memiliki politik matang selama pendudukan Jepang. Mereka mengatakan kepada Van Mook bahwa ia mungkin berhadapan dengan pemimpin asli lain, tetapi tidak pernah dengan Soekarno.

Nasionalis. Peristiwa tersebut telah membawa Soekarno yang langsing dan pandai bicara di sebuah rumah mewah di Batavia bagian Eropa. Di sana ia dengan senang hati dan nyaman berpose bersama istri kedua merupakan perempuan Jawa yang cantik dan anak lelakinya yang berusia sepuluh bulan. Dia menjawab dengan tegas pertanyaan tentang siaran anti-Sekutu masa perang dan perjalanan ke Jepang dengan mengklaim bahwa ia hanya bekerja sama untuk mendapatkan konsesi bagi Negara dan Rakyatnya. Jika pewawancara terus menanyainya tentang kolaborasi, biasanya ada sebuah jeda sementara gadis  Indonesia rupawan melayani kue dan air jahe panas.

Jika disejajarkan Soekarno adalah Kerensky dari revolusi Indonesia, Wakil  Presidennya, Mohammad Hatta, berusia 43, mungkin Lenin. Tajam, cerdas, berpendidikan Eropa, Hatta membentuk kelompok nasionalis pertama di usia 15, seperti Soekarno diasingkan oleh Belanda.

Kedua ternyata tidak sepenuhnya percaya satu sama lain, biasanya diwawancarai bersama sehingga masing-masing dapat memeriksa apa kata yang lain. Hatta merancang gerakan konstitusi, yang dipenuhi dengan klausul melarikan diri (Presiden memiliki kekuasaan diktator “di masa kritis;” kebebasan berbicara dan berkumpul tidak dijamin, tapi “harus disediakan”).

Tokoh Gerakan penting yang ketiga dan negarawan tua adalah Palim, 61 tahun, salah satu dari para pendirinya. Dia bekerja di layanan kolonial Belanda selama bertahun-tahun, memimpin gerakan menyamar untuk kemerdekaan sampai tahun 1938, sekarang berkonsultasi dengan para pemimpin muda pada semua masalah utama. Palim memperingatkan: “Kami sudah 350 tahun menerima janji-janji dari Belanda: Kami tidak ingin apa-apa lagi dari mereka. Jika anda ingin memulai Pertempuran besar lagi, kirim kembali Belanda ke Indonesia.” Ketika ditanya apakah ia akan memilih pemerintahan kolonial Inggris kepada pemerintahan Belanda, ia menjawab: “Apakah kau lebih suka digigit oleh kucing dari anjing?”

http://www.time.com

Soekarno berani mengecam Inggris dan mendapat dukungan dari India

Soekarno menuduh Inggris yang membantu Belanda

Dr Soekarno, Presiden Pemerintah Indonesia yang tidak diakui, dalam sebuah surat kepada Jenderal Sir Philip Chirtison, telah memperingatkan Inggris bahwa jika mereka melanjutkan “kebijakan dihitung untuk memaksakan kembali kekuasaan Belanda atas Indonesia” hasil akhir akan menjadi “membasahi di Indonesia mandi darah “.

“Sikap Anda jauh dari netral” kata Soekarno. “Ini jelas pro Belanda. Anda tidak bisa menghindari tanggung jawab untuk perang dengan pisau yang harus mau tidak mau dimulai lagi antara Indonesia dan Belanda. Anda sedang membuat semacam bentrokan dimungkinkan oleh arahan, melindungi, dan memelihara akhirnya Belanda karena tindakan melawan kita” .

Soekarno lebih lanjut menuduh Inggris dengan perencanaan untuk menginstal Belanda berkuasa, meskipun sebagai salah satu dari Perserikatan Bangsa-Bangsa, “Belanda hanya memiliki wewenang untuk memberi pertolongan interniran dan mengumpulkan dan menyita Jepang di Indonesia.

Sebuah peringatan juga diberikan bahwa “ini adalah di luar kekuasaan Republik untuk memastikan keselamatan dari 250.000 penduduk Belanda dan Eurasia di Indonesia. Pertumpahan darah yg tiada akhirnya lebih lanjut akan tercipta jika pasukan Belanda mendarat.

Sementara itu pertempuran telah berhenti di Semarang, kota ketiga Jawa. Gurkha berada dalam kendali penuh kemarin, meskipun pedesaan pegunungan di luar kota masih berada di tangan Nasionalis. Pasukan Jepang harus ditarik sepenuhnya dari kota.

Dari India Reuter melaporkan bahwa dukungan untuk orang Indonesia telah dicanangkan oleh Mr Nehru, Pemimpin Kongres India, dan Mr Jinnah, presiden dari All-India Muslim League.

The Glasgow Herald

Tuesday, October 23, 1945

City Edition